Pada tahun 2019, realisasi devisa dari sektor pariwisata di Indonesia adalah sekitar 280 Triliun Rupiah, atau tumbuh sekitar 10 Triliun lebih besar daripada tahun 2018. Sektor pariwisata ini memang merupakah salah satu sektor penting di Indonesia. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2019, Wishnutama mengatakan bahwa industri pariwisata telah berkontribusi sekitar 5.5% dari Pendapatan Domestik Bruto dan menyerap sekitar 13 juta orang tenaga kerja.
Namun pada tahun 2020, pandemi Covid-19 menghantam seluruh sendi-sendi perekonomian dunia. Hal ini mempengaruhi pertumbuhan bisnis, terutama dari sektor pariwisata karena kebijakan social distancing dan pembatasan pergerakan manusia yang berlaku di seluruh dunia dilakukan hingga kini di tahun 2022. Tahun 2020, industri pariwisata Indonesia membukukan jumlah wisatawan mancanegara sebesar 4.052 juta orang dengan total pendapatan sekitar 20.7 milyar rupiah saja. Nilai ini merupakan salah satu valuasi terendah yang pernah Indonesia raih, bahkan hanya mampu mencapai seperempat dari perolehan Indonesia tahun sebelumnya. Sehingga bukanlah hal yang mengagetkan bila fakta ini turut mempengaruhi kondisi tenaga kerja di sektor pariwisata; dimana sekitar 12.91 juta orang mengalami pengurangan jam kerja, dan 939 ribu orang lainnya tidak bekerja.
Namun pandemi tidak selalu membawa hal buruk dalam dunia pariwisata. Penelitian Asian Development Bank (ADB) menyatakan bahwa pandemi membawa para turis pada pemahaman dan ketertarikan baru pada industri pariwisata berkelanjutan, yang berkontribusi pada pembangunan yang lebih lestari (green development), tangguh, inklusif dan bermanfaat bagi semua pemangku kepentingan.
Peluang transformasi sektor wisata menjadi sektor wisata berkelanjutan berdasarkan saran ADB dalam laporan “Sustainable Tourism after Covid-19” tahun 2021 mengatakan bahwa hal ini dapat dimulai oleh para pembuat kebijakan dan operator bisnis melalui berbagai cara berikut :
- Menyeimbangkan penyebaran wisatawan : penurunan jumlah dan nilai ekonomi dari kegiatan pariwisata yang terimbas pandemi terjadi karena selama ini pengembangan tempat wisata sangat tergantung pada jumlah wisatawan internasional dan hanya fokus pada area tertentu saja (misal di Indonesia hanya pada Bali dan sekitarnya); sehingga pembangunan infrastruktur dan ekosistem pariwisatanya hanya dibangun di daerah dan untuk mengakomodir wisatawan internasional.
- Upaya marketing yang terdiversifikasi dan mengutamakan turis lokal. Karena pandemi menunjukkan bahwa kunjungan turis internasional seringkali tidak stabil karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Di Indonesia sendiri, data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kenyataannya memang bahkan sebelum pandemi pun, jumlah wisatawan lokal jauh lebih besar daripada wisatawan internasional (2019 : 722 juta wisatawan lokal VS 16 juta wisatawan internasional)
- Pengembangan produk dan pengalaman pariwisata baru yang mengutamakan kualitas (high-spending visitors yang umumnya tertarik pada value-driven touristry) ketimbang masih bertahan pada aspek kuantitas/banyaknya jumlah wisatawan. Seperti fokus pada pengalaman pariwisata yang sehat, meningkatkan kualitas hidup (meaningful) dan wisata alam yang selaras dengan kondisi sumberdaya (memperhatikan aspek daya dukung/carrying capacity di tempat wisata).
- Mengaitkan sektor pariwisata dengan industri yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Dalam hal ini di Indonesianya misalnya adalah industri pengolahan, perdagangan dan pertanian. Ketiga sektor tulang punggung Indonesia tersebut mampu menopang hampir setengah dari perekonomian Indonesia. Pengembangan jenis pariwisata yang terkoneksi dengan industri tersebut, misalnya dapat dimulai dari pengembangan industri pengolahan makanan organik, produksi barang dan merchandise sebagai oleh-oleh, industri agrowisata, dan lain sebagainya
- Melakukan pengembangan pariwisata yang lebih terintegrasi dan selaras dengan aspek-aspek pembangunan berkelanjutan (SDGs), sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup tidak hanya para pemangku kepentingan di sektor pariwisata, namun juga seluruh masyarakat Indonesia

Sumber : ADB report Sustainable Tourism after COVID-19
Ditengah upaya semua pihak di seluruh dunia untuk menanggulangi pandemi, DSI berharap besar agar industri pariwisata di Indonesia bisa segera bangkit kembali dan pariwisata berkelanjutan bisa menjadi salah satu arah prioritas pengembangan industri pariwisata Indonesia pasca pandemi.
Sumber bacaan :
- https://nasional.kontan.co.id/news/sepanjang-2019-devisa-sektor-pariwisata-mencapai-rp-280-triliun?page=2
- https://www.kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Tren-Pariwisata-Indonesia-di-Tengah-Pandemi
- Sustainable Tourism after COVID-19: Insights and Recommendation for Asia and the Pacific (adb.org)
- https://www.bps.go.id/indicator/16/1189/1/jumlah-perjalanan-wisatawan-nusantara.html
- https://www.kemenparekraf.go.id/statistik-wisatawan-mancanegara/Data-Kunjungan-Wisatawan-Mancanegara-Bulanan-Tahun-2019
- https://www.antaranews.com/berita/2308842/bps-lima-sektor-beri-kontribusi-6485-persen-pdb-triwulan-ii-2021
- https://unsplash.com/photos/JjYhagSxnOU
Biografi penulis: Maghleb Elmir, seorang lulusan Master’s degree (Sustainable Business Management) di IPB ini, memiliki pengalaman bekerja sebagai Business Analyst and Market Research on Agriculture and Market Research industry pada tahun 2008-2013 dan sekarang bekerja sebagai Operational Director and Owner of PT Maxima Business Solution dan juga Operation Team at Dampak Sosial Indonesia Foundation. Ia memiliki visi misi dalam sustainability yaitu,
“Berharap bisa ambil bagian dari upaya mendorong transformasi dan inovasi Indonesia dalam bidang pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan peningkatan nilai ekonomi yang selaras satu sama lain dari bawah (level grass root), dan pada akhirnya diadopsi menjadi perubahan di level regulasi dan pemerintahan supaya lebih sustainable 😉”