Teori Keagenan dan CSR

Teori Keagenan dan CSR

Teori Keagenan dan CSR 924 616 Dampak Sosial

Bagi perusahaan,  Corporate Social Responsibility (CSR) adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan produksi perusahaan. Umumnya CSR dikaitkan dengan kegiatan perusahaan yang menaikkan isu-isu lingkungan. Namun bagaimana dengan perusahaan yang tidak bersinggungan dengan isu lingkungan? Wajibkah mereka memiliki program CSR yang baik? Jawabannya adalah “ya”. Karena ternyata dibalik isu lingkungan yang selama ini diberitakan, CSR memiliki peran yang penting akan hubungan perusahaan dan pemilik modal.

Teori Keagenan

Untuk mengerti lebih lanjut hubungan antara perusahaan dan pemilik modal, kita harus mengetahui teori keagenan terlebih dahulu. Pada dasarnya, teori keagenan membahas tentang prinsipal dan manajemen. Prinsipal pada teori keagenan berperan sebagai orang yang mendelegasikan kegiatan, sedangkan manajemen sebagai orang yang diamanahkan oleh prinsipal. Di dalam ruang lingkup perusahaan, teori keagenan dipakai untuk menggambarkan hubungan antara pemiliki modal (sebagai prinsipal) dan perusahaan (sebagai manajemen).

Teori keagenan, selanjutnya, akan membahas mengenai bagaimana interaksi terhadap prinsipal dan manajemen. Teori ini mengatakan bahwa kedua belah pihak akan mencoba untuk memaksimalkan keuntungan masing-masing. Sebagai contoh, manajemen sebagai orang yang diamanahkan pasti ingin terlihat baik di mata prinsipal. Namun, teori keagenan ini akhirnya membuat asymmetric information di antara kedua belah pihak semakin besar. Manajemen akan cenderung menutupi fakta jika hal yang diamanahkan ternyata tidak berjalan lancar.

Leverage Ratio

Jika kita melihat dari konteks perusahaan, masalah asymmetric information yang telah disebutkan dapat dilihat dari keuangan perusahaan. Perusahaan akan cenderung mencoba menutupi kondisi perusahaan dari pemilik modal jika kondisi keuangan perusahaan relatif tidak baik. Sebaliknya, jika perusahaan dalam kondisi yang baik, maka kondisi keuangan perusahaan akan ditunjukkan secara sukarela ke pemilik modal untuk menekankan perusahaan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Walau ada banyak sekali pengukuran kondisi untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Namun cara yang relatif mudah adalah dengan menggunakan pengukuran leverage ratio  dan laba perusahaan. Leverage ratio adalah pengukuran besar pinjaman utang yang dilakukan untuk membiayai kegiatan aktiva perusahaan. Tingginya tingkat leverage ratio mengatakan bahwa kondisi perusahaan sedang dalam keadaan tidak baik.

Leverage dan CSR

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cahyaningtyas (2018), ternyata leverage ratio ini memiliki hubungan positif dengan kegiatan CSR. Tingginya leverage ratio membuat perusahaan mencari cara untuk menunjukkan kredibiltasnya. Salah satu caranya adalah dengan menunjukkan tanggung jawab sosial yang baik bagi masyarakat.

Penerapan CSR yang Lebih Baik

Penggunaan CSR untuk menaikkan citra keuangan perusahaan yang buruk memang bukan suatu hal yang buruk. Dalam beberapa kasus tertentu, CSR bahkan dapat menyelamatkan perusahaan. Namun jika kita ambil konteks CSR sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, penerapan CSR yang dilakukan hanya untuk menaikkan citra mungkin akan terlihat tidak baik untuk kedepannya. Oleh karena itu, penerapan CSR haruslah tetap sesuai dengan kebutuhan akan tanggung jawab sosial yang dimiliki perusahaan.

Dampak Sosial Indonesia dapat membantu penerapan kegiatan sosial yang lebih baik. Dengan pemetaan sosial, implementasi program, dan pengukuran dampak yang dilakukan oleh kami, CSR perusahaan tidak hanya akan menaikkan citra perusahaan, namun juga dapat memberikan dampak yang tepat sasaran.

 

 

Referensi

Cahyaningtyas, Fadilla. (2018). Pengungkapan Corporate  Social  Responsibility(CSR)  pada  Lembaga  Keuanganyang Terdaftar di BEI. JoEBGC Vol. 1, No. 1, pp. 10-21,2018.