Prepper mindset dalam pertahanan sosial keluarga menghadapi pandemi episode 1

Prepper mindset dalam pertahanan sosial keluarga menghadapi pandemi episode 1

Prepper mindset dalam pertahanan sosial keluarga menghadapi pandemi episode 1 924 520 Dampak Sosial

Pandemic covid 19 memaksa umat manusia berubah menyesuaikan pola hidupnya, membawa new normal era dan juga mindset baru tentang bertahan hidup. kewaspadaan langkanya sumberdaya untuk menunjang hidup serta bayangan panic buying juga chaos karena sumberdaya semakin sedikit memaksa banyak individu dan kelompok sosial secara sadar melakukan persiapan.

Prepper bisa diartikan sebagai individu atau kelompok sosial yang melakukan upaya bertahan hidup dengan melakukan bentuk persiapan menghadapi bahaya dan resiko yang telah dianalisa sebelumnya. Kegiatan prepping dilakukan dengan banyak skenario mulai dari melawan pandemic,perang nuklir,biologi,kimia bahkan resesi ekonomi global,dan tentunya bencana alam. Yang dalam tujuannya mengantisipasi hilang dan langkanya sumberdaya untuk melanjutkan hidup.

 

Journal of Marketing Management pada tahun 2019, menuliskan bahwa Prepper adalah sebuah sub kultur yang mulai terbangunkan setelah manusia semakin sadar akan bergeraknya Jam Kiamat (Doomsday Clock), yang merupakan sebuah simbol bagi Gerakan Survivalism ini

 

Dalam pergerakannya dulu mereka dipandang sebagai gerakan paranaoid akan suatu hal dan terlalu berlebihan,namun dengan adanya pandemic covid19 gerakan ini justru disambut baik dan publik banyak disadarkan tentang konsep kesiapsiagaan mandiri baik secara  perseorangan maupun kesiapsiagaan mandiri kelompok sosial.

Bentuk umum kegiatan prepper sendiri memiliki beberapa tahapan,dimulai dari analisa bahaya resiko dan skenario yang akan dihadapi,tahapan tindakan dengan mulai membuat rencana,mengumpulkan sumberdaya,membuat paramater keamanan,maintenance,exit plan dan komunikasi. Masing masing prepper memiliki cara dan tindakan juga SOP masing masing, semua dilakukan berdasarkan kebutuhan dan prepper mindset setiap individu dan kelompok sosialnya.

Dibanyak negara yang lebih maju orang orang melakukan persiapan dengan membuat bungker dibawah tanah untuk isolasi,juga menyiapkan makanan untuk bekal kebutuhan makanan dalam tempo waktu tertentu bisa mingguan hingga tahunan,offgrid system sebagai penunjang kebutuhan sumberdaya listrik,water filtering system untuk kebutuhan air bersih dan juga banyak hal yang berhubungan dengan parameter keamanan seperti mempelajari beladiri dan menyiapkan senjata yang tentunya mereka sesuaikan dengan skenario yang mereka sudah analisa sebelumnya. Lalu bagaimana tren prepper di Indonesia?

Belakangan muncul pergerakan persiapan pangan dibanyak daerah,dengan harapan membangun ketahanan pangan dari ranah sosial rumah tangga, ada yang melakukan bagi bagi bibit, mulai menanam memanfaatkan lahan kecil dirumahnya,menggarap tanah kosong dengan ditanami tanaman pangan seperti singkong,ubi dan sayuran, bahkan menyiapkan alternatif protein hewani dan sayur lewat pemeliharaan ikan lele dan kangkung dari dalam ember. Pergerakan ini berangkat dari keresahan dan analisa masing masing pelakunya yang akhirnya melahirkan tindakan perencanaan juga eksekusi dengan pendekatan rumah tangga. 

Ditarik pada khasanah lokal kita yang lebih luhur dan arif,dimasalalu nenek moyang dan mungkin sebagian kakek nenek kita melakukan kegiatan prepping dengan cara pengasapan jagung,menyimpan gabah padi pada lumbung,melakukan pengasapan ikan agar lebih tahan lama.Menariknya masih bisa kita jumpai banyak kasepuhan ( kelompok sosial budaya suku sunda ) seperti kasepuhan ciptagelar dan kasepuhan sinar resmi hingga hari ini melakukan kebiasan menyimpan panen gabah padi mereka sehingga mereka memiliki ketahan pangan hingga tahunan bahkan puluhan tahun lamanya.

 

Doni ,member of Indonesian Blades

Prepper and urban survival enthusiast