Permasalahan Sosial: Lebih Baik Lari atau Jalan?

Permasalahan Sosial: Lebih Baik Lari atau Jalan?

Permasalahan Sosial: Lebih Baik Lari atau Jalan? 924 616 Dampak Sosial

Pernahkah bingung memilih antara lari atau jalan saat hujan turun? Apalagi ada urusan dadakan atau harus banget pulang, tetapi tidak membawa payung. Kalau jaraknya lumayan jauh, mobil online bisa jadi alternatif, tetapi dipikir-pikir tarifnya akan naik dikarenakan banyaknya pemesanan, terus jarak tempat yang jadi tujuan masih bisa dicapai dengan jalan kaki atau berlari.

Akun youtube “Kok Bisa” yang berjudul “Lebih Baik Lari atau Jalan di Waktu Hujan” membahas perihal lebih baik berlari atau berjalan saat hujan datang. Daripada diam di tempat dan kehujanan serta tidak akan sampai ke tujuan, bergerak menjadi pilihan yang tepat, baik berlari maupun berjalan. Menurutnya, berlari ataupun berjalan, akan sama-sama terkena air hujan, tetapi yang membedakan banyaknya air hujan yang dikenai ialah kecepatan. Maka dalam hal ini, berlari cepat menjadi pilihan.

Ada 2 bagian area yang bisa dimodelkan, sehingga bagian 2 bagian itu saja yang terkena air hujan, yaitu bagian atas dan depan. Pada bagian atas, mau berdiam diri saat hujan menghadang atau berlari, air hujan yang diterima akan berjumlah sama. Hal ini bisa ditunjukkan dengan menggunakan teori bangun ruang, bahwa volume balok dan parallelepiped akan sama. Adapun, bagian depan juga akan terkena air hujan, jumlah air hujannya pun sama jika berdiam atau bergerak. Seperti traktor yang membajak sawah, mau cepat ataupun lambat, sawah tetap akan terbajak dengan baik.

Berdasarkan hal tersebut. Berlari cepat merupakan kunci agar tidak terkena air hujan terlalu lama. Namun, ketimbang bingung memilih berdiam atau berlari, hendaknya sedia payung sebelum hujan, tindakan ini tentu lebih menjaga keamanan dan dapat sampai ke tujuan dengan baik tanpa perlu mengalami basah kuyup.

Langit biru dan tenang, dengan awan-awan yang membersamainya, dapat menurunkan hujan. Dalam kehidupan yang tenteram, pastilah terdapat permasalahan sosial yang terjadi. Lalu, lebih memilih “berlari” atau “berjalan” dalam menghadapi permasalahan sosial?

 

Permasalahan Sosial: Berlari atau Berjalan?

Berbagai pemangku kepentingan pasti memiliki inisiatif untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi, dengan tujuan agar terbentuk perubahan sosial yang lebih baik. Inisiatif dari berbagai kepentingan tersebut, sangat perlu didiskusikan sehingga dapat ditentukan program yang mampu berdampak baik bagi sosial. Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi salah satu media untuk mewujudkan inisiatif berbagai pemangku sosial dalam menghadapi tantangan sosial.

Perencanaan dan eksekusi program CSR yang dilakukan baik secara “berjalan” maupun “berlari”, pasti memiliki sisi positif dan negatif. Adapun sisi positif dari program CSR yang dilakukan secara “berjalan” yaitu program CSR terlaksana sesuai dengan tujuan dan berdampak baik. Sementara itu, sisi negatifnya, program CSR akan berlangsung lama, apabila terdapat permasalahan, semakin lama pula durasi program CSR, sehingga dapat menyebabkan terkurasnya pembiayaan, tidak sesuai dengan perencanaan awal, mengganggu operasional dan lain sebagainya.

Program CSR untuk perubahan baik sosial, yang dilakukan secara “berlari” tentu akan memiliki sisi positif yaitu durasi singkat dan sesuai dengan perencanaan. Permasalahan pun berusaha diatasi secepat mungkin. Namun, program yang dilakukan dengan “berlari”, dapat menjadikan dampak tidak begitu terasa dari segi penerimaannya. Hal ini dikarenakan, program yang berlangsung cepat, dalam eksekusinya berpotensi asal jadi dan program berlalu begitu saja.

“Berjalan” atau “berlari”, penyelesaian permasalahan sosial, tentunya dapat berdampak baik bagi sosial dan berkelanjutan, dengan pematangan rencana dan eksekusi program, tentunya melakukan riset dampak baik dan solusi apabila terjadi berbagai permasalahan dalam proses pengerjaan program CSR. Dalam hal ini diperlukan tim khusus yang ahli dalam perencanaan dan implementasi program sosial. Konsultan CSR dapat menjadi tim khusus untuk mewujudkan program CSR yang berdampak baik dan berkelanjutan. Dengan adanya konsultan CSR, pemetaan wilayah akan dilakukan, sehingga program CSR menjadi tepat sasaran dan ini akan membantu dalam perencanaan dan desain program CSR.

Dampak Sosial Indonesia merupakan salah satu konsultan CSR yang berupaya membantu perencanaan program CSR dan mendesain program CSR yang tetap sasaran untuk mengatasi permasalahan sosial yang ada. Tidak hanya itu, Dampak Sosial Indonesia juga memberikan layanan pengukuran dampak, dengan ini dapat dipastikan program CSR tidak berlalu begitu saja, tetapi berdampak besar dan berkelanjutan.

Adanya Dampak Sosial Indonesia, sebagai konsultan CSR, akan berupaya memastikan program CSR yang dilakukan baik secara “berjalan” ataupun “berlari”, tetap akan memberikan dampak baik dan berkelanjutan bagi penerimanya.

 

Source:

Kok Bisa. 2020. Lebih Baik Lari atau Jalan Waktu Hujan?. https://youtu.be/YdE8gxSKfXk [Diunduh pada 29 Juli 2020]

Dwi Triyanto. 2013. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) di Bidang Pendidikan PT Hino Motors Sales Indonesia (PT HMSI). Yogyakarta (ID): Universitas Negeri Yogyakarta

Mekonen Araira A. 2018. Challenges in Implementation CSR. Karlstad (Swe) : Karlstad University. https://diva-portal.org [Diunduh pada 29 Juli 2020]