Menyelesaikan Masalah Bukan Dengan Berdiam

Menyelesaikan Masalah Bukan Dengan Berdiam

Menyelesaikan Masalah Bukan Dengan Berdiam 924 616 Dampak Sosial

Pernahkah memiliki masalah, tetapi memilih diam?

Rasanya, ingin mengungkapkan masalah tetapi takut menerima respon yang tidak sesuai ekspektasi atau hati. Mengomunikasikan masalah demi mencari solusi, tetapi masalah berakhir diperpanjang. Mengungkapkan masalah bisa jadi pemantik untuk bertengkar, kemudian salah satu pihak memilih diam, agar pertengkaran tidak berlanjut.

Namun, jika keputusan diam terhadap masalah bertujuan menghukum orang lain, tindakan tersebut dapat disebut sebagai silent treatment. Dilansir dari Satu Persen, ada beberapa faktor yang memengaruhi seseorang memilih silent treatment , di antaranya:

  1. Silent treatment lebih mudah dilakukan daripada berargumen

Silent treatment tampak seperti solusi ideal agar seseorang yang terlibat masalah dengan diri, bisa merasakan apa yang diri rasakan. Dampak dari didiamkan ini akan terasa tanpa perlu berbicara panjang lebar untuk memahamkan kondisi atas masalah. Namun, keinginan diri untuk membuat seseorang merasa buruk, tidak akan selamanya menempatkan diri kepada posisi yang lebih baik. Mendiamkan seseorang karena masalah, dapat berdampak buruk, dikarenakan masalah yang tidak kunjung menemukan penyelesaian.

  1. Tidak mendapatkan komunikasi yang baik

Sebagian dari manusia pernah memilih silent treatment sebagai sikap atas permasalahan yang terjadi. Misalnya, orang tua yang mendiamkan anaknya dikarenakan suatu masalah atau teman karib yang bersikap diam meskipun diri pribadi sudah meminta maaf. Seringnya melihat orang lain melakukan silent treatment akan berpengaruh terhadap diri, sehingga menganggap silent treatment sebagai sebuah solusi, dibanding berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah.

  1. Kecenderungan bersifat narcissist

Orang yang bersifat narcissist cenderung bersifat sensitif dan lebih memilih berada di posisi yang lebih aman. Silent treatment yang dilakukan oleh narcissist, akan menempatkannya pada posisi tinggi yang memiliki kontrol lebih, sehingga orang lain akan melakukan apa yang diinginkan demi menebus rasa bersalahnya kepada seseorang yang narcissist.

 

Masih banyak faktor lain yang mungkin menyebabkan seseorang memilih silent treatment dalam menyelesaikan masalah. Berdasarkan penjelasan singkat dari faktor penyebab tersebut, diketahui bahwa silent treatment dapat berdampak negatif dan berakhir dengan tidak selesainya masalah. Selain itu, berpotensi memperkeruh suasana dan hubungan diri dengan yang lainnya. Maka, menghindari hal ini dibutuhkan solusi lain dalam menyeselaikan masalah, selain mendiamkan yang lain.

 

Komunikasi Asertif: Solusi Alternatif Penyelesaian Masalah

Komunikasi asertif dapat menjadi salah satu solusi alternatif dalam menyikapi masalah yang terjadi. Adanya komunikasi asertif, seseorang lebih lugas menyampaikan masalah yang dirasakan kepada yang lain, sehingga menimbulkan kelegaan. Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi asertif, yaitu:

  1. Mengomunikasikan masalah dengan jujur

Dalam mengomunikasikan masalah, sebaiknya dilakukan dengan jujur agar orang lain mengetahui apa yang dirasakan dan dialami. Hal ini sangat membantu dalam mencari solusi untuk menyelesaikan masalah. Mengomunikasikan masalah dengan jujur, membantu diri untuk mengekspresikan diri dengan positif dan mencapai tujuan atau kebutuhan yang diinginkan.

  1. Membuka diri dengan kritik dan pujian

Timbal balik dalam mengomunikasikan masalah akan bersifat positif dan negatif. Bisa pula berbentuk pujian atau kritikan. Membuka diri dengan berbagai macam respon dan timbal balik dapat dilakukan dengan berpikir positif dan mengambil sikap rendah hati, sehingga tidak berakhir pada sikap marah atau defensif.

  1. Berempati dalam komunikasi

Mempertimbangkan sudut pandang orang lain atau lawan bicara diperlukan ketika mengomunikasikan masalah, sehingga lawan bicara tidak merasa diacuhkan dan marah atas masalah yang disampaikan. Hal ini juga berfungsi mengatasi konflik pertengkaran. Berempati dalam komunikasi dapat membantu menenangkan suasana, sehingga win-win solution dapat ditemukan dengan mudah.

 

Beberapa cara yang telah disebutkan, diharapkan dapay mengomunikasikan masalah secara asertif. Jika masalah yang terjadi pada diri, dapat ditemukan solusinya dengan komunikasi asertif, lalu bagaimana dengan masalah yang terjadi di sosial dan lingkungan?

 

CSR: Solusi dari Masalah yang Terjadi di Sosial dan Lingkungan

Sebagaimana diketahui bahwa terdapat berbagai masalah yang terjadi di sosial dan lingkungan. Misalnya, akses pendidikan yang sulit, fasilitas pendidikan yang minim, banyaknya jumlah masyarakat miskin, kebakaran hutan, banyaknya sampah dan lainnya. Berbagai masalah di sosial dan lingkungan, apabila didiamkan dan dibiarkan bergitu saja akan menyebabkan kesenjangan sosial yang semakin tinggi, meningkatnya angka kemiskinan, rusaknya hutan dan lingungan dan memunculkan masalah-masalah baru.

Banyaknya persoalan yang terjadi di sosial dan lingkungan, menggerakkan berbagai organisasi  berinisiatif dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Hal ini menjadi tantangan bagi berbagai organisasi. Corporate social responsibility (CSR) dipercaya mampu menjadi solusi bagi organisasi dan pemangku kepentingan menjawab tantangan sosial dan lingkungan. Adanya aktivitas CSR mampu memberikan perubahan yang lebih baik dan berkelanjutan. Maka, mewujudkan CSR yang berdampak baik dengan manfaat bersifat jangka panjang, perlu dilakukan kolaborasi dengan konsultan CSR.

Dampak Sosial Indonesia hadir untuk membantu inisiatif berbagai organisasi dalam menjawab tantangan sosial dan lingkungan, melalui pemetaan wilayah agar CSR tepat sasaran, perencangan dan implementasi program dan pengukuran dampak. Kehadiran Dampak Sosial Indonesia, diharapkan mampu menjadi mitra strategis berbagai organisasi dalam mengelola CSR, sehingga masalah sosial dan lingkungan yang terjadi dapat di atasi, serta berdampak baik dan berkelanjutan bagi penerima manfaat.

 

Source:

Satu Persen. 2020. Kenapa Kalau Lagi Ada Masalah Harus Diem-Dieman, Sih? (Bahaya Silent Treatment). https://www.youtube.com/watch?v=-cnpX7mS2_8 [Diunduh pada 5 Agustus 2020]

Mindtools.com. How to Be Assertive: Asking for What You Want Firmly and Fairly. https://www.mindtools.com/pages/article/Assertiveness.htm [Diunduh pada 5 Agustus 2020]

Photo by Dima Pechurin on Unsplash