Urgensi Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Masa Pandemi

Urgensi Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Masa Pandemi

Urgensi Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan di Masa Pandemi 500 335 Dampak Sosial

Pembangunan berkelanjutan yang diusung oleh Fauzi (2004), ditujukan untuk memenuhi tiga alasan utama:

  1. Moral generasi untuk memperhatikan ketersediaan sumber daya alam bagi generasi mendatang.
  2. Pemanfaatan ekologi yang semestinya agar tidak mengancam sumber daya alam dan lingkungan.
  3. Ekonomi keberlanjutan yang tidak membatasi standar kesejahteraan antar generasi di masa yang akan datang (intergenerational welfare maximization). Pernyataan ini juga sejalan dengan kerangka Meadowet, et.all (1972) dalam bukunya yang berjudul The Limit to Growth, bahwa pertumbuhan ekonomi akan dibatasi oleh ketersediaan sumber daya alam.

Prinsip dasar dari setiap elemen pembangunan berkelanjutan meliputi pemerataan, partisipasi, keanekaragaman, integrasi, dan perspektif jangka panjang. Menyikapi fenomena ini, pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism menjadi inisiatif jitu untuk mengembangkan perekonomian Indonesia melalui investasi dan peleburan aktivitas proyek dengan lingkungan. Pariwisata telah terbukti berpengaruh positif terhadap perekonomian negara akibat pendapatan nilai tukar asing, penerimaan devisa akibat konsumsi wisatawan, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan pembangunan infrastruktur pariwisata. Di sisi lain, pariwisata berpotensi menimbulkan kebocoran pendapatan, vulnerability ekonomi, polarisasi spasial, sifat pekerjaan yang musiman, dan kesalahan alokasi sumber daya ekonomi. 

Selain sifat pariwisata yang musiman, pembatasan sosial akibat COVID-19 menunjukkan tidak adanya efisiensi pembangunan di bidang pariwisata. Perlu peran pemerintah untuk membuat model kontrak kerjasama antara perusahaan pariwisata dengan investor asing dan supplier, baik melalui perjanjian atau kesepakatan internasional. Pada akhirnya, seluruh pemangku kepentingan perlu mendorong pemberdayaan pekerja lokal untuk mendorong inovasi pariwisata, menyokong pemasaran destinasi, dan mengembangkan pembangunan infrastruktur fisik guna menciptakan efisiensi distribusi produksi lokal dalam negeri, serta menjamin stabilitas politik dan keamanan negara. Covid-19 memperkuat kontra mass tourism dengan dalih dapat menimbulkan degradasi bahkan destruksi atas lingkungan, budaya dan sosial. Quality tourism menawarkan perjalanan wisata eksklusif, alternatif, dan menargetkan warga negara lokal secara parsial. Quality tourism diyakini bisa lebih bermanfaat, tidak saja bagi kehidupan ekonomi negara dan bangsa, namun juga bermanfaat dalam hal kemajuan masyarakat secara utuh dan sinambung, berkelanjutan untuk masa yang sangat panjang (sustainable), atau bahkan tak terbatas waktu, baik dalam hal kesejahteraan ekonomi, maupun kehidupan sosial budayanya. 

Pariwisata berkelanjutan mensinergikan wisatawan sebagai tamu (guest) maupun penyedia sebagai tuan rumah (host). Konsep pengembangan menitikberatkan pada pelestarian ekosistem dengan basis masyarakat lokal sebagai aktor utama, dan menjunjung kegiatan yang bertanggung jawab merupakan wujud dari ekowisata. Urgensi perubahan mass tourism menuju quality tourism yang tidak ditanggapi dengan cepat akan berdampak pada ketertinggalan persaingan wisata. Mengingat destinasi murah dan asri sedang digandrungi, dibandingkan pengembangan wisata berlebihan yang membutuhkan investasi dan upaya besar-besaran.

 

Sumber: Arida, I.N.S. (2018). Buku Ajar Pariwisata Berkelanjutan. Jurnal Destinasi Pariwisata 6 (2), 299-303.