Hajimete no Otsukai atau My First Errand adalah sebuah acara televisi di Jepang yang menayangkan salah satu kegiatan penting pada kehidupan bermasyarakat di sana. Acara ini meliput jalan keberlangsungan tugas pertama yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Tugas yang diberikan biasanya seputar membeli barang di supermarket atau mengantarkan barang ke orang lain. Dari perspektif orang Indonesia, acara ini mungkin terlihat sangat berbahaya, dikarenakan pada tugas pertama ini, anak dibiarkan pergi sendiri tanpa pengawasan orang tuanya. Akan tetapi, di Jepang My First Errand dianggap lumrah dan bahkan menjadi sebuah alat yang mengajarkan kemandirian pada anak.
Kemandirian Pada Anak
Hal yang mendasari kegiatan ini menjadi sebuah kebiasaan di sana adalah dikarenakan my first errand adalah sebuah gerbang pengenalan anak terhadap kebudayaan Jepang secara luas. Jepang yang sangat identik dengan kedisiplinan dan tanggung jawabnya memerlukan pendidikan terhadap dua nilai ini sejak dini.
Dilansir dari Indonesia Expat, pendidikan anak pada umur 0-6 tahun merupakan hal yang sangat penting pada tumbuh kembang anak. Pada masa-masa ini anak lebih banyak belajar terhadap sesuatu yang baru, entah dalam bentuk bahasa, budaya, maupun logika. Oleh karena itu, penanaman nilai juga sangat penting untuk ditanamkan pada masa-masa ini, masa dimana mereka dapat menyerap segala sesuatu, mengamalkannya, dan akhirnya dijadikan kebiasaan ataupun tertanam menjadi nilai tertentu.
Peran Orang Tua
Tentu saja kesuksesan pendidikan anak pada usia dini tidak akan terlepas dari peran orang tua yang proaktif. Pada 6 tahun pertama perkembangan anak, orang tua harus dapat mengontrol segala sesuatu yang akan menjadi kebiasaan anak kedepannya. Adalah suatu tantangan bagi orang tua pada masa ini untuk menyampaikan nilai yang diharapkan secara tepat.
Salah satu cara yang bisa dipakai adalah dengan membuat lingkungan keluarga menjadi senyaman mungkin. Lingkungan yang dibangun tidak harus sangat disiplin dimana hukuman selalu berlaku pada setiap kegiatan yang tidak baik, akan tetapi justru lingkungan yang menyenangkanlah yang mungkin bisa menjadi strategi terbaik bagi orang tua.
My first errand adalah suatu contoh aplikasi dari penerapan lingkungan yang baik pada anak pada usia dini. Anak usia dini di Jepang diberikan sebuah pengetahuan dimana kegiatan first errand merupakan kegiatan yang asik dan penting bagi mereka sendiri. Biasanya si anak diberi iming-iming hadiah apabila telah melakukan kegiatan ini dengan baik. Dengan pengetahuan ini, si anak akan merasa senang, tapi nilai yang disasar, yaitu rasa tanggung jawab, juga tetap bisa masuk ke dalam pribadi si anak.
Pemandirian Komunitas Sebagai Bentuk CSR
Yang menjadi poin menarik selanjutnya adalah, kita semua juga harusnya dapat meniru proses pemandirian yang dilakukan oleh masyarakat Jepang. Bukan hanya dari sisi orang tua di Indonesia saja, namun dalam kegiatan lain seperti pemanfaatan Corporate Social Responsibility (CSR) oleh perusahaan.
Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki kewajiban sosial untuk komunitas yang dinaunginya, bisa dari segi karyawan ataupun masyarakat sekitar. Biasanya kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan untuk komunitas adalah sekadar acara sekali jalan ataupun penyuluhan saja. Akan tetapi, masih banyak sekali bidang pembinaan lain yang terbuka untuk pemberdayaan komunitas terkait. Salah satunya adalah pada bidang pemandirian komunitas itu sendiri.
Pemandirian komunitas ini walaupun terlihat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama, namun kegiatannya dapat memberikan perusahaan kebermanfaatan yang banyak. Seperti contoh, masyarakat sekitar yang tadinya sangat bergantung pada perusahaan, apabila diberdayakan, bisa menjadi lebih mandiri sehingga dapat membuat usahanya sendiri. Usaha ini diharapkan bisa menjadi mitra perusahaan dan memberikan benefit yang lebih bagi perusahaan di masa yang mendatang.
Dampak Sosial Indonesia hadir untuk membantu perusahaan dalam kegiatan CSR ini. Dengan layanan kami, perusahaan tidak hanya dapat mendapat asistensi dalam pengimplementasian, namun juga pengukururan dampak yang rasional, sehingga kegiatan CSR perusahaan pun dapat menjadi lebih baik.
Referensi :
Saraswati, Dini Putri. (2020). Early Childhood :Early Childhood Education: How Important is It?. https://indonesiaexpat.biz/education-2/early-childhood-education-how-important-is-it/. [Diakses pada 23 Juli 2020]