Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi dan Pengembangan Karakter Mahasiswa Melalui Beasiswa Program Mahasiswa Cerdas

Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi dan Pengembangan Karakter Mahasiswa Melalui Beasiswa Program Mahasiswa Cerdas

Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi dan Pengembangan Karakter Mahasiswa Melalui Beasiswa Program Mahasiswa Cerdas 924 522 Dampak Sosial

Tentang Pendidikan dan Pengembangan Karakter

Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Semakin berkembangnya zaman saat ini, perubahan yang terjadi semakin cepat di berbagai bidang seperti sosial budaya, geopolitik, ekonomi, nilai-nilai kemanusiaan dan lainnya. Dalam mempersiapkan SDM yang mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat serta masih memegang nilai-nilai hidup yang baik dibutuhkan pemerataan akses pendidikan di Indonesia, termasuk akses pendidikan perguruan tinggi. 

Menurut salah satu penelitian Han Hill dan Thee Kian Wie pada tahun 2017, Partisipasi masyarakat usia 19 sampai 24 tahun dalam pendidikan tinggi masih didominasi oleh kelas menengah atas dan 2.6 persen sisanya baru diisi oleh kelas menengah bawah. Hal ini menunjukkan ketidakmerataan akses yang nyata dalam pendidikan serta adanya ketimpangan sosial. Adapun penyebab ketidakmerataan akses tersebut yaitu salah satunya biaya pendidikan tinggi yang meningkat sehingga partisipasi masyarakat terhadap pendidikan tinggi belum masif. Selain akses pendidikan tinggi, akses terhadap pendidikan karakter pun menjadi penting. Hal ini didasarkan pada pendidikan karakter yang merupakan pengembangan dan pengembangan kebiasaan yang baik sehingga mampu membuktikan dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang menjadi kepribadiannya (Kemendiknas, 2011).

Penanaman dan pengembangan karakter perlu perhatian khusus agar masyarakat tidak mengalami dekadensi moral. Hal ini terjadi dengan pernyataan Sudarminta bahwa terdapat 3 gejala sosial yang dapat dikatakan menjadi indikasi bahwa bangsa ini mengidap krisis moral. Gejala sosial tersebut yaitu masih merajalelanya praktik kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) dari tingkat hulu sampai hilir birokrasi pemerintahan dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, lemahnya rasa tanggung jawab spsial dan kurang rasa kemanusian di sebagian masyarakat. Dengan demikian, dibutuhkan wadah untuk pendidikan dan pengembangan karakter. 

 

Upaya Peningkatan Akses Pendidikan dan Pengembangan Karakter Melalui Beasiswa Berbasis Asrama

Latar belakang yang telah dipaparkan menjadi BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta dan Dampak Sosial Indonesia berkolaborasi untuk membantu mahasiswa dalam memeroleh akses pendidikan perguruan tinggi dan mengembangkan karakter mahasiswa yang madani dengan mengadakan beasiswa Program Mahasiswa Cerdas (PMC). Beasiswa ini berasal dari dana zakat profesi ASN di DKI Jakarta dan berdurasi selama tiga tahun dengan jumlah penerima sebanyak 50 orang mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Negeri Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Indonesia, Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik APP Jakarta dan Politeknik Negeri Media Kreatif.

Upaya dalam mengembangkan karakter penerima beasiswa dilakukan dengan berbasis asrama. Hal ini bertujuan agar penerima beasiswa yang mampu memiliki dan menerapkan 5 nilai hidup yaitu cendekia, empati, religius, disiplin, aktif dan swadaya (CERDAS). Tahun pertama beasiswa penilaian pada nilai cendekia, disiplin dan religius. Sementara itu, tahun kedua berfokus pada pengembangan karakter dengan nilai empati dan aktif. Adapun nilai swadaya akan difokuskan pada tahun ketiga beasiswa PMC.

Kehadiran pendamping asrama diharapkan anggota yang mampu menerima beasiswa dalam membangun karakter yang madani. Pendamping juga anggotaamai penerima beasiswa untuk menjalankan kegiatan pembinaan harian. Tujuan dari pembinaan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengembangan diri berupa peningkatan softskill penerima beasiswa. Selain pembinaan harian, terdapat pembinaan penerima beasiswa yang dilakukan satu kali dalam sebulan.  

                                                                       

Peningkatan Kompetensi Pendamping 

Pendamping asrama beasiswa PMC sangat berperan dalam pengembangan karakter mahasiswa, maka Dampak Sosial Indonesia berinisiatif memberikan berbagai nilai tambah untuk pendamping asrama yaitu pendamping pertemuan mingguan , sesi pengembangan diri pendamping dan pengalaman yang didapat dari kontribusi di berbagai program Dampak Sosial Indonesia dan Maxima Indonesia.

Pendamping dan manajer proyek beasiswa PMC akan berkumpul dalam rapat mingguan untuk melihat semua pendamping asrama, berbagi wawasan atau pengalaman dan bercerita mengenai kondisi penerima beasiswa masing-masing dan permasalahan yang muncul di asrama. Adanya meeting mingguan menjadikan pendamping hubungan dan manajer proyek semakin dekat dan ini membantu dalam memperkuat tim dan menambah relasi, serta menjadi ruang untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah .

Sesi pengembangan diri pendamping diselenggarakan satu bulan sekali pada pekan pertama. Pada sesi ini pendamping akan mendapatkan berbagai macam materi seperti pengenalan kepribadian dan tipe kerja berdasarkan DISC, financial planning , coaching dan lainnya. Selain diri mengembangkan pendamping dengan materi yang berwawasan dan aplikatif, adanya sesi pengembangan ini dapat menjadi bekal pendamping untuk membantu penerima beasiswa yang bertumbuh menjadi lebih baik di asrama. Ruang kontribusi juga disediakan bagi pendamping yang ingin menambah pengalaman di berbagai program yang dilaksanakan oleh Dampak Sosial Indonesia dan Maxima Indonesia, seperti menjadi fasilitator di lokakarya karier program , membantu dalam penyusunan konsep program dan lainnya.

 

Penyesuaian dengan Kondisi Pandemi

Kondisi pandemi Covid-19 yang sedang terjadi saat ini dan adanya ketetapan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar-Besaran pada pertengahan Maret 2020 yang menjadikan akses pendidikan perguruan tinggi beralih ke berani, program beasiswa PMC pun mengalami kesulitan. Penyesuaian ini bertujuan agar penerima beasiswa tetap menumbuhkan karakter CERDAS dan mendapatkan pembinaan seperti pembinaan yang dilakukan harian dan bulanan.

Tahun ketiga beasiswa PMC berfokus pada nilai swadaya dan ini membantu dalam sistem pembaruan di mana penerima beasiswa akan mengembangkan kemandirian dan jiwa inisiatifnya. Sistem pembinaan dilakukan secara berani dan terbagi menjadi 2 program yaitu program pembinaan dengan mengundang berbagai pembicara yang menginspirasi dan program mentoring kelompok.

Program Pembinaan memiliki beberapa tema per-Kuartal Yaitu kelas pendiri , pengetahuan karir , persiapan karir , perencanaan keuangan Dan rumah tangga. Tema ini dirancang untuk mempersiapkan penerima beasiswa dalam menjalankan kehidupan pasca kampus nanti dan ini sebagai turunan dari nilai swadaya. Sementara itu, pembinaan kelompok bertujuan untuk melatih kepedulian dan kerja sama tim serta pelatih penerima beasiswa untuk memiliki capaian setiap bulannya dengan melakukan presentasi perencanaan prestasi dan menginformasikan laporan kemajuan dari perencanaan prestasi dengan sistem penjaga-perencana. Sistem penjaga-perencanaberupa pembagian peran penerima beasiswa dalam kelompok pendampingan di mana penerima beasiswa ada yang berperan sebagai wali dan ada pula yang berperan sebagai perencana sehingga setiap perencanaan prestasi yang dibuat oleh penerima beasiswa dapat terukur di setiap minggunya dan wali dapat memberikan umpan balik , dukungan dan menjadi pengingat bagi perencana . Selain mentoring mengenai empiris, penerima beasiswa juga dapat berinisiatif dengan mengadakan mentoring dengan keahlian sesuai dengan bidang yang diminati. 

 

Sumber:

[Kemendiknas] Kementerian Pendidikan Nasional. 2011. Panduan Pendidikan Karakter. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Kebukuan Kemendiknas

 Han Hill dan Thee Kian Wie dalam kumparan.com. 2018. 3 Masalah Mengkhwatirkan dalam Dunia Pendidikan Tinggi 2018. https://kumparan.com/dara-nanda-vitera/3-masalah-mengkhawatirkan-dalam-dunia-pendidikan-tinggi-2018 .

Sudarminta dalam Bambang Suryadi. 2015. Pendidikan Karakter: Solusi Mengatasi Krisisi Moral Bangsa. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah