Categories: Impact Stories

Implementasi Program CSR Proyek Ekowisata

Share

Implementasi program CSR pada proyek ekowisata pada Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Pada tahun 2017, World Economic Forum menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-14 tentang Potensi Natural Resources. Indonesia memiliki berbagai macam keunikan alam yang berpotensi cukup baik untuk pengembangan pariwisata jenis ekowisata. 

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai konsep dan urgensi ekowisata yang meliputi tujuan, strategi, dan prinsip pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Selanjutnya kita akan membahas implementasi dan contoh proyek ekowisata.

Sebelum masuk ke dalam implementasi program, sasaran pengembangan ekowisata adalah adanya peningkatan:

  1. Kunjungan wisatawan mancanegara secara total
  2. Pergerakan wisatawan nusantara secara total
  3. Penerimaan devisa dari wisatawan mancanegara secara total
  4. Pengeluaran wisatawan nusantara secara total

Pengembangan ekowisata harus memenuhi tiga kebijakan yang selaras dengan ekowisata:

  1. UU No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan
  2. PP No. 50 Tahun 2011 (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional)
  3. Permendagri No. 33 Tahun 2009 (Pedoman Pengembangan Ekowisata Daerah)

Perencanaan Ekowisata

Perencanaan ekowisata perlu dimulai dengan perumusan kebijakan pengembangan ekowisata dengan memperhatikan ketiga kebijakan di atas. Selanjutnya, para pengembang ekowisata dapat mengkoordinasikan penyusunan rencana pengembangan ekowisata sesuai dengan kewenangan daerah masing-masing.

Outcome yang diharapkan adalah adanya keselarasan RPJMD dan RKPD yang dilakukan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, masyarakat di dalam atau sekitar kawasan ekowisata, dan para pengusaha lokal untuk keberhasilan pengembangan ekowisata.

Contoh konkret pada studi ekowisata Ponco Wismo Jatu. Berdasarkan potensi alami, para pengembang perlu menemukan lanskap alami, daya tarik wisata, dan spesies endemik. Langkah yang perlu dicapai meliputi perencanaan data dan informasi, perencanaan lanskap, pengelolaan kawasan, pemeliharaan kawasan, pengamanan kawasan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Aksi ini perlu diseimbangkan dengan teori DMO’s (Destination Management Organizations). Teori ini mengklasifikasikan pengembangan ekowisata berdasarkan internal produk dan eksternal produk. Langkah mencapai upaya ini bisa dengan mengembangkan produk, mengembangkan pasar, mengembangkan konektivitas, mengembangkan pelayanan dan pengelolaan pelestarian lingkungan.

Percontohan Program Ekowisata

Berikut ini merupakan proyek percontohan dan perencanaan program: 

  • Proyek percontohan: Hulu Bahau dan Hulu Pujungan, Kab. Malinau, Kalimantan Timur.
    • Atraksi utama: petualangan rimba dan trekking; petualangan sungai; budaya Dayak (tarian, pahat, kerajinan), peninggalan arkeologi (batu dan gua pemakaman); stasiun penelitian hutan tropis; pengamatan hidupan liar (rusa, lembu liar, babi hutan), cocok untuk trekking selama 5-7 hari/malam ke daerah lain.
    • Akomodasi: Rumah tinggal di semua desa dan kamar inap (sederhana) di pusat-pusat kecamatan (Long Pujungan dan Long Alango).
    • Pengelola lokal: Panitia ekowisata di tingkat desa.
    • Akses: Dengan perahu panjang/perahu sungai dari Tanjung Selor atau menyewa pesawat kecil dengan rute Tarakan/Malinau.  Fleksibilitas waktu dalam penjadwalan memerlukan perhatian khusus.
    • Promosi: Lonely Planet Guide (“Borneo”); website www.borneo-ecotourism.com; buku panduan travel.
  • Proyek percontohan: Betung Kerihun National Park, Kab. Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
    • Atraksi utama: trekking hutan dan petualangan, budaya (tari tradisional, musik, kerajinan); rumah panjang; trekking Hulu Mahakam (Kalimantan Timur); cocok untuk ekowisata lintas batas bersama Taman Nasional Lanjak Entimau (Sarawak).
    • Akomodasi: Rumah tinggal di semua desa dan rumah panjang.
    • Pengelola lokal: KOMPAKH di Putussibau dan panitia ekowisata di tingkat desa.
    • Akses: transportasi darat atau transportasi udara dari Pontianak, menggunakan boat dari Putussibau ke kawasan taman nasional.
    • Materi promosi: web-site (KOMPAKH), leaflet dan buku panduan travel.
    • Kemitraan: berkolaborasi dengan operator perjalanan Jerman-Indonesia.

 

Sumber:

  • Nafi, M., Supriadi, B. dan Roedjinanndari, N. (2017). Pengembangan Ekowisata Daerah. Buku Bunga Rampai Tahun 2017. Diakses dari https://id.scribd.com/document/405019931/BookchapterEkowisata-pdf
  • Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata (2009). Prinsip dan Kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat. Akses dari https://docplayer.info/394191-Prinsip-dan-kriteria-ekowisata-berbasis-masyarakat.html
Admin

Recent Posts

Program Fasilitator Dampak Sosial Jadi Wadah Belajar Baru Bagi Pemuda

Pengaruh COVID-19 terhadap pertumbuhan kualitas sumber daya manusia (capacity building) semakin meningkat seiring dengan perubahan…

2 minggu ago

Core Competencies Sebagai Topik Pembuka Pelatihan FDS

Sabtu, 16 Oktober 2021 merupakan pekan pertama dari Pelatihan Fasilitator Dampak Sosial (FDS). FDS adalah…

2 minggu ago

Pembangunan Program CSR Berbasis SIA

Pembangunan Program CSR berbasis SIA? Proses pengelolaan adaptif dan dari kebijakan program, rencana, dan proyek…

3 bulan ago

3 Metode Jitu Mencapai Keberhasilan Pemetaan Sosial

Implementasi pengembangan program CSR dapat bermacam-macam. Namun dalam tahap asesmen, perusahaan perlu menggunakan metode dan…

3 bulan ago

Optimalisasi Desa Wisata dengan Participatory Rural Appraisal (PRA)

Partisipasi masih menjadi metode yang efektif untuk mempercepat pertumbuhan desa wisata. PRA (Participatory Rural Appraisal)…

3 bulan ago

Dampak Sosial Berkolaborasi Dalam Program Cybersecurity Training

Dalam rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2021, diketahui bahwa jumlah angkatan kerja Indonesia…

3 bulan ago