Berbekal Kompetensi Kerja Bersama Professional Development Workshop Sub Batch 2

Berbekal Kompetensi Kerja Bersama Professional Development Workshop Sub Batch 2

Berbekal Kompetensi Kerja Bersama Professional Development Workshop Sub Batch 2 500 281 Dampak Sosial

Infradigital Foundation dan Dampak Sosial Indonesia melanjutkan aksinya dalam memberdayakan siswa SMK kelas 12 dan lulusan SMK untuk siap memasuki dunia kerja. Pasar kerja formal yang biasanya didominasi oleh lulusan SMK/SMU sedang tidak kondusif di era pandemi COVID-19. Situasi ini berujung pada perluasan kesempatan kerja di sektor informal atau berwirausaha. Beberapa diantaranya yang berkeahlian teknis tertentu unggul berkiprah aktif dalam berbagai sektor di era pandemi ini. Siswa SMK harus memenuhi kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik agar dapat beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Memahami peluang dan kesenjangan permasalahan ini, kolaborasi Dampak Sosial Indonesia dengan InfraDigital Foundation memperdalam kompetensi peserta SMK melalui pelatihan teknologi informasi, yakni cyber security. Melanjutkan program pre-workshop yang diadakan pada 19 Juni 2021 silam, program workshop diselenggarakan secara daring pada tanggal 17 Juli 2021 dan 18 Juli 2021. Durasi waktu dimulai pada pukul 09.30 – 11.30 WIB, kemudian dilanjutkan lagi pada pukul 13.00 – 15.00 WIB. Professional Development Workshop terbagi ke dalam dua tema besar:

  1. Capacity to Work

Tema ini diusung untuk memperlengkapi senjata peserta masuk ke dalam industri kerja. Senjata yang dimaksud ialah kelengkapan dan keabsahan berkas-berkas kerja, dan komunikasi yang perlu dibangun untuk interview maupun negosiasi gaji. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 17 Juli 2021 yang dibawakan oleh pemateri Dinar Syarita Bakti. Sebanyak 399 peserta yang hadir telah diberikan penugasan sebelum sesi Professional Development Workshop secara daring berlangsung. Acara yang penuh esensi juga menimbulkan kesan santai ketika MC membawakan tebak gambar dan tebak lagu dalam sesi ice breaking. Program Capacity to Work terbagi ke dalam tiga sesi dengan pemaparan materi mengenai:

  • Proses Pencarian Kerja Secara Umum
  • Persiapan Berkas Administrasi: Peserta diberikan penugasan yang harus dikumpulkan sebelum sesi Capacity to Work berlangsung. Peserta diwajibkan untuk membuat CV, cover letter via email, portofolio, akun LinkedIn, dan mengumpulkan percobaan interview online dengan panduan yang tertera pada modul yang sudah dibagikan. Pada tanggal 17 Juli 2021, pemateri menjelaskan contoh konkrit CV yang masuk dalam pertimbangan human resource (HR). Demikian pula dengan penggunaan bahasa yang tepat untuk menulis cover letter, bagaimana membangun jaringan melalui LinkedIn, hingga contoh portofolio yang tepat.
  • Online Interview dan Negosiasi Gaji: Interview secara daring sudah menjadi standar normal di masa pandemi. Oleh karena itu, beberapa peserta yang berminat dapat secara langsung mempraktikkan interview di depan pemateri. Proses negosiasi gaji memiliki beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan, seperti UMR regional, standar penentuan gaji bila ditanya oleh HR, hingga komunikasi yang tepat untuk negosiasi gaji.
  1. Capacity to Adapt

Sesi Capacity to Adapt diadakan pada hari Minggu, tanggal 18 Juli 2021 yang dihadiri oleh 365 peserta. Serangkaian materi dibawakan oleh Ivan Ahda. Pemateri menjelaskan tentang adaptasi memasuki dunia kerja, membangun kepemimpinan diri yang kuat, komunikasi efektif, dan public speaking. Untuk memastikan kompetensi peserta sesuai dengan harapan yang dibutuhkan dalam dunia kerja, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil pada sesi breakout room. Peserta dapat secara langsung mempraktekkan materi yang telah didapatkan bersama dengan para fasilitator. 

Serangkaian sesi ini diharapkan mampu menunjang soft skill siswa dan lulusan SMK. Mengingat bahwa soft skill ini tidak hanya diperlukan dalam dunia kerja, melainkan dalam kehidupan sehari-hari. Soft skill yang terasah akan menurunkan kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dengan tingkat SMK. Pemateri menekankan bahwa kompetensi skill lebih dibutuhkan dibandingkan dengan ijazah belaka. Peserta didorong untuk berani berkomunikasi dan mencari alternatif lain dengan keunggulan yang dimilikinya, seperti berwirausaha sesuai bidangnya di masa pandemi.

 

Berdasarkan data yang diolah oleh Pusdatinaker, penganggur berpendidikan SMK sebanyak 2,33 juta orang atau sebesar 23,82 persen dari total pengangguran terbuka serta didominasi oleh laki – laki sebesar 66,21 persen. Melalui komitmen InfraDigotal dan Dampak Sosial Indonesia melalui program CyberSecurity Professional Development Workshop, diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran terbuka dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi peserta dalam memasuki dunia kerja. Program ini juga mendorong peserta agar mampu memberikan multiplier effect dalam lingkup pekerjaannya di masa depan. Dalam hal ini, peserta SMK tidak perlu khawatir tanpa adanya ijazah sarjana. Mereka telah dipastikan mampu bersaing melalui kompetensi skill yang dimilikinya.

 

Sumber: 

Wibowo, S. (2016). Upaya Memperkecil Kesenjangan Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dengan Tuntutan Dunia Industri. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Vol. 23, No. 1.

Wirawan, F. A, dkk. (2021). Ketenagakerjaan Dalam Data Jilid 3. Jakarta Selatan: Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan.