Perumusan program CSR tentunya memerlukan gambaran menyeluruh dari lokasi yang ingin dipetakan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa pemetaan sosial atau social mapping dapat memanfaatkan potensi dan peluang untuk memenuhi ekspektasi masyarakat seutuhnya. Berikut ini merupakan ulasan lebih rinci terkait hal-hal yang dibutuhkan untuk memaksimalkan kegiatan social mapping:
- Pemetaan Jaringan Sosial: Wilayah atau lokasi merupakan gambaran keadaan dari proses terjadinya interaksi, baik antar individu, kelompok, maupun institusi. Interaksi sosial yang dijalin secara berkesinambungan dalam lokasi tersebut menghasilkan pola satuan kehidupan. Pihak-pihak yang mendominasi proses interaksi sosial disebut aktor. Aktor dapat berupa individu maupun institusi. Aksi yang dibawa aktor membawa konsekuensi interaksi antar karakteristik dan kepentingan yang melatarbelakangi masing-masing aktor tersebut. Dalam hal ini, peran social mapping harus mampu memberikan ilustrasi berbagai bentuk hubungan antar aktor, latar belakang dan karakteristiknya. Hubungan antar aktor digambarkan dalam bentuk garis dan diberi simbol (+) atau (-) sesuai dengan sifat hubungannya. Pemetaan jaringan sosial menggambarkan hubungan antar aktor, baik individu maupun institusi, dan sifat hubungannya, baik positif maupun negatif. Sebagai contoh hubungan tokoh adat dengan lurah. Terdapat hubungan positif pada saat lurah menempatkan adat dan tradisi sebagai bagian modal sosial. Sementara hubungan dapat bersifat negatif karena dalam kesempatan lain, lurah berusaha menghapus beberapa unsur ritual adat karena dianggap sebagai pemborosan, dan hal tersebut mendapat tantangan keras dari tokoh adat.
- Aktor, kepentingan, jaringan dan posisi sosialnya: Posisi sosial yang dimiliki setiap aktor membawa konsekuensi adanya peran sesuai posisinya tersebut. Aktor yang mempunyai jaringan yang luas dapat berdampak pada peran dan kepentingannya, serta pengaruh aktor dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh seorang tokoh agama memiliki jaringan hubungan dengan LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat, hal ini dapat menyebabkan tokoh tersebut juga berperan dan berkepentingan untuk ikut serta dalam upaya pembangunan, terutama peningkatan taraf hidup masyarakat.
- Analisis Jaringan: Dalam pembangunan ada keterlibatan antara stakeholder dan aktor yang berperan di dalamnya. Apabila berbagai stakeholder dan aktor-aktor tersebut dapat bekerjasama dan bersinergi satu sama lain untuk merencanakan, melaksanakan, maupun mengevaluasi program-program pembangunan, maka dampaknya akan dapat lebih mendorong laju perubahan yang diharapkan. Besar kecilnya kekuatan yang dimiliki aktor tentu akan berpengaruh dalam proses dan kontribusi yang dilakukannya.
- Identifikasi forum-forum yang digunakan masyarakat untuk membahas kepentingan publik: Informasi mengenai forum-forum yang digunakan masyarakat untuk membahas kepentingan publik sangat berguna bagi perusahaan untuk mensosialisasikan berbagai program community development. Melalui forum-forum tersebut, perusahaan tidak perlu mengadakan forum sendiri untuk sosialisasi program ke masyarakat.
- Identifikasi Masalah Sosial: Masalah sosial dapat didefinisikan sebagai kondisi yang tidak diharapkan atau tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat sehingga mendorong adanya upaya perubahan dan perbaikan. Terdapat dua pendekatan untuk mengidentifikasikan masalah sosial. Pertama mengamati kondisi atau perilaku seseorang sebagai warga masyarakat (orientasi individu). Misalnya, warga sekitar termasuk warga miskin, pelaku kriminal, pemabuk. Kedua, memperhatikan sistem atau struktur sosial di sekitarnya (orientasi level sistem atau struktur masyarakat). Sebagai contoh, adanya dominasi proses pengambilan keputusan pada kelembagaan sebagai sistem sosial di berbagai aspek.
- Identifikasi Potensi: Kegiatan sosial mapping perlu mempertimbangkan potensi yang tersedia sebagai upaya untuk memecahkan masalah. Identifikasi potensi dapat meliputi berbagai aspek, yakni potensi alam, potensi sumber daya manusia, potensi finansial, potensi fisik/infrastruktur, dan potensi modal sosial. Potensi alam berupa lahan pertanian, sumber air, dan keindahan alam, dan sebagainya. Potensi manusia, seperti etos kerja, ketersediaan penduduk dalam usia produktif, dan orientasi pekerjaan. Potensi finansial meliputi potensi keuangan yang ada pada tingkat keluarga (misalnya tabungan) maupun tersedianya lembaga keuangan dalam masyarakat baik tingkat lokal (misalnya kelompok simpan pinjam), koperasi maupun akses terhadap lembaga perbankan. Potensi fisik terutama berupa tersedianya infrastruktur yang mendukung kegiatan sosial ekonomi misalnya pasar, prasarana dan sarana transportasi, fasilitas pendidikan, dan fasilitas kesehatan. Potensi modal sosial berupa nilai dan institusi dalam masyarakat yang dapat mendorong kerjasama dan tindakan bersama untuk meningkatkan kondisi kehidupan bersama.
- Analisis Pengembangan: Setelah menemukan berbagai sumber penghidupan berkelanjutan melalui identifikasi potensi, perusahaan merumuskan peluang pengembangan untuk penghidupan yang lebih baik. Misalnya identifikasi modal keuangan menemukan adanya kelompok simpan-pinjam PKK. Kelompok ini dapat meningkatkan status dari kelompok menjadi koperasi simpan-pinjam. Peristiwa ini dapat meningkatkan kualitas sistem tata kelola keuangan dan memperluas jangkauan pelayanan.
- Identifikasi Kelompok Rentan: Pemecahan masalah seharusnya diprioritaskan bagi lapisan masyarakat yang membutuhkan perbaikan kondisi kehidupan secara mendesak. Lapisan masyarakat ini sering disebut dengan kelompok rentan. Kelompok rentan memiliki segmentasi yang luas, meliputi kelompok masyarakat yang berpotensi akan menghadapi masalah karena ketidakmampuan dalam merespon kondisi, perubahan dan perlakuan tertentu. Oleh karena cakupannya yang luas, disarankan identifikasi lebih diprioritaskan pada kelompok yang rentan dalam menghadapi perubahan dan tekanan yang berasal dari kondisi sosial ekonomi. Warga masyarakat dikatakan semakin rentan secara sosial ekonomi apabila tidak memiliki aset dan akses. Dalam kasus ini, penentuan kelompok sasaran program tidak berarti harus berasal dari kelompok rentan. Namun, jika program harus dilaksanakan secara berkelompok, maka dalam kelompok yang terbentuk harus mengandung unsur kelompok rentan.
- Kebutuhan Program: Program yang direkomendasikan sebagai hasil dari social mapping pada dasarnya merupakan hasil analisis untuk menjawab kebutuhan pemecahan masalah dengan memanfaatkan potensi dan peluang yang ada. Urgensi dan prioritas program yang direkomendasikan ditentukan oleh apakah program tersebut berdampak pada pemecahan masalah yang ada, apakah program tersebut melibatkan kelompok masyarakat yang paling membutuhkan peningkatan kondisi kehidupan, apakah program tersebut didukung oleh potensi yang ada dan apakah program tersebut mempunyai efek berantai yang cukup luas baik bidang kegiatannya maupun kelompok sasarannya.
Sumber: Buku Indikator Proper Hijau Aspek Pengembangan Masyarakat (Community Development) Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2013 Tentang PROPER.