Pentingnya Menganalisis Kebutuhan untuk Program Pemberdayaan Masyarakat yang Tepat Sasaran

Pentingnya Menganalisis Kebutuhan untuk Program Pemberdayaan Masyarakat yang Tepat Sasaran

Pentingnya Menganalisis Kebutuhan untuk Program Pemberdayaan Masyarakat yang Tepat Sasaran 626 417 Dampak Sosial

Praktik CSR memiliki ikatan yang erat dengan program-program pemberdayaan masyarakat. Sebab, tanggung jawab sosial merupakan upaya yang dilakukan perusahaan agar mampu menjadi warga negara (corporate citizen) yang baik. Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu perwujudan sikap tanggung jawab tersebut, di mana perusahaan tidak hanya mementingkan seberapa banyak laba yang diperoleh, melainkan juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar lingkungan perusahaan.

Proses pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya sendiri dengan menggunakan dan mengakses sumber daya setempat sebaik mungkin. Masyarakat adalah sasaran perubahan yang diharapkan mampu menyadari potensi serta masalah yang ada di sekitarnya. Ketika sudah muncul kesadaran akan potensi dan masalah, masyarakat mampu mendefinisikan apa yang menjadi kebutuhan mereka untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan potensi yang mereka miliki.

Program pemberdayaan masyarakat dikatakan berhasil apabila masyarakat mampu secara mandiri meningkatkan kualitas hidup mereka tanpa adanya ketergantungan pada pihak penyelenggara program. Mereka tidak menjadikan program pemberdayaan sebagai sesuatu yang aji mumpung sehingga melepaskan mereka dari tanggung jawab dan usaha untuk berdaya di atas kaki sendiri. Selain itu, program pemberdayaan masyarakat juga dikatakan berhasil jika program tersebut tepat sasaran, yaitu sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Jonathon Bradshaw (1972) membagi jenis-jenis kebutuhan sosial berdasarkan bagaimana kebutuhan diekspresikan, diukur dan dapat dipenuhi. Bagaimanapun juga, Bradshaw telah mengingatkan bahwa kebutuhan tidak hanya bersifat personal, tapi juga subjektif tergantung lingkungan dan kondisi yang terus-menerus berubah sepanjang waktu.

Berikut 4 Taksonomi Kebutuhan Sosial menurut Bradshaw (1972):

  1. Normative Needs
    Kebutuhan normatif muncul apabila seseorang atau suatu kelompok orang berada dalam keadaan di bawah suatu ukuran standar yang telah ditetapkan oleh para ahli, praktisi, ilmuwan, akademisi, atau profesional lainnya. Misalkan, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka garis kemiskinan pada Maret 2020 sebesar Rp 454.652 per kapita per bulan. Maka, keluarga-keluarga yang memiliki pendapatan kurang dari nominal yang ditetapkan sebagai garis kemiskinan adalah keluarga yang membutuhkan pemberdayaan ekonomi.
  2. Felt Needs
    Kebutuhan yang dirasakan dapat diketahui apabila telah melalui proses wawancara atau observasi lebih dalam mengenai kondisi sosial dan persepsi seseorang atau suatu kelompok. Kendatipun cara mengidentifikasi ini menunjukan pendekatan demokratis, namun cara tersebut tidak bebas dari kelemahan. Kelemahannya antara lain adalah bahwa keinginan seseorang atau kelompok akan dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap kemungkinan untuk mencapainya, persepsi masyarakat tentang keinginan itu, tingkat upaya dalam mencapai keinginan, dan daya dukung untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan tersebut.
  3. Expressed Needs
    Felt Needs yang diungkapkan oleh seseorang atau suatu kelompok disebut dengan kebutuhan yang diekspresikan atau Expressed Needs. Expressed Needs mudah diketahui dari wawancara. Namun, tidak ada yang menjamin bahwa semua expressed needs adalah kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Oleh karena itu, seorang praktisi pemberdayaan masyarakat harus jeli dalam mengamati dan menganalisis kebutuhan yang sebenarnya agar program berjalan secara tepat sasaran.
  4. Comparative Need
    Kebutuhan perbandingan akan timbul apabila karakteristik seseorang atau seseorang atau suatu kelompok tidak menerima suatu layanan dalam keadaan hampir sama dengan karakteristik populasi lain yang memperoleh layanan. Misalkan A adalah seseorang penyandang disabilitas yang membutuhkan elevator untuk mobilisasi. B juga penyandang disabilitas yang memiliki kebutuhan yang sama dengan A. Namun, di kampus A, ia dapat menggunakan elevator dengan bebas sedangkan kampus B belum mengadakan fasilitas yang ramah disabilitas. Oleh karena itu, B disebut sebagai pihak yang membutuhkan.

Dampak Sosial Indonesia adalah sebuah Social Impact Agency yang memiliki fokus pada program intervensi sosial sebagai salah satu dari beberapa macam program CSR. Kami melakukan riset yang mendalam tentang berbagai macam best practice CSR untuk memberikan layanan yang terbaik kepada para mitra kami. Didukung dengan para expert, berbagai program kemitraan yang dilakukan Dampak Sosial mampu terkualifikasi dengan baik dan terpercaya.

Referensi:
https://www.leadershipcentre.org.uk/artofchangemaking/theory/taxonomy-of-needs/ Diakses pada 22 September 2020.Bradshaw, Jonathan. (1972). Jonathan Bradshaw on Social Policy. University of York.