Sejak tanggal 22 Agustus 2020 kemarin, salah satu perusahaan komik terbesar di dunia yaitu DC Comics melakukan online convention yang bernama DC Fandome dan berdurasi 48 jam non-stop. Konvensi ini dilakukan dalam rangka mengumumkan berbagai kegiatan yang DC Comics akan lakukan dalam beberapa tahun ke depan. Pada awalnya pengumuman kegiatan akan dilaksanakan pada San Diego Comic-Con, namun karena pandemic COVID-19 yang terjadi, maka DC Comics diharuskan mencari alternatifnya. Kegiatan ini diterima secara positif oleh masyarakat, terutama fans DC Comics. Mereka jadi tidak harus keluar rumah dalam pandemi dan menerima resiko terkena COVID-19.
Dibalik hiruk pikuk ini, tidak banyak yang tahu, bahwa dibalik pandemi COVID-19 yang sedang kita jalani, industri komik juga sedang mengalami masa-masa yang sulit.
Peralihan Printed Comic ke Digital Comic

Dapat dilihat dari pendapatan industri komik telah mengalami stagnansi sejak tahun 2016. Walaupun jika kita telaah satu persatu, hal ini dikarenakan berbagai macam hal, namun penyebab yang bisa dianggap paling menyakiti industri ini adalah perkembangan jaman.
Faktor perkembangan jaman mengubah perilaku masyarakat yang kurang mengurangi buku cetak. Dikatalisasi dengan isu lingkungan untuk mengurangi jumlah produksi kertas akhirnya menyebabkan masyarakat menghindari produk-produk yang sulit untuk di daur ulang. Selain sampah plastik, salah satu industri yang terkena dampak dari peralihan ini adalah industri buku cetak. Dan benar saja, untuk merespon peralihan ini, sejak beberapa tahun terakhir, platform untuk mendapatkan digital copy menjadi lebih mudah.
Walaupun perusahaan komik dapat mengatasi permasalahan ini dengan beralih ke industri lain seperti perfilman yang telah dilakukan oleh DC comic dan Marvel, namun, sekali lagi, industri buku cetak mengalami penurunan yang sangat drastis dan menyebabkan turunnya pendapatan perusahaan komik di seluruh dunia.
Pandemi sebagai Katalis Penurunan Pendapatan
Hal ini diperparah oleh kondisi pandemi COVID-19 yang sekarang sedang kita jalani. Perilaku masyarakat dipaksa untuk berubah dengan cepat mengikuti perkembangan teknologi. Dan lagi-lagi, hal ini mengakibatkan industri buku cetak menjadi semakin terpuruk. Toko buku kecil bahkan mulai tutup karena tidak mendapatkan pelanggan seperti biasanya. Hampir seluruh pelanggan toko buku yang membeli buku cetak mulai beralih ke digital copy book.
Upaya Penyelamatan
Dalam melihat fenomena ini, banyak perusahaan komik mencoba membantu dengan berbagai macam cara. DC Comics bersatu dengan beberapa perusahaan komik seperti Lion Forge membuat koalisi untuk bersatu melawan keterpurukan industri buku komik cetak. Koalisi ini akan menggalang dana untuk toko-toko buku yang sekarang mengalami defisit besar-besaran karena pandemi. Koalisi ini kemudian dikenal dengan nama Comic Book United Fund. Salah satu cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan galangan dana adalah dengan melelang 60 sketsa original dari karakter komik DC selama 60 hari di eBay. Pengarang komik juga ikut mensupport kegiatan Comic Book United Fund dengan turut melelangkan karyanya di akun Twitter @Creators4Comics.
Dampak Sosial Indonesia dapat membantu kegiatan penggalangan dana dan penyaluran yang tepat sasaran dengan permasalahan sosial yang tengah di hadapi. Dengan pemetaan sosial, asistensi implementasi program, serta pengukuran dampak yang jelas dan terukur, Dampak Sosial Indonesia dapat membantu kegiatan sosial dan CSR perusahaan sehingga kerugian seperti yang dialami industri buku cetak ini dapat diminimalisir.