Kondisi Literasi di Indonesia
Indonesia selalu berupaya untuk meningkatkan pembangunan di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Pemberantasan buta aksara merupakan salah satu upaya Indonesia untuk meningkatkan pendidikan. Hal ini dapat dilihat, sejak diberlakukannya Inpres wajib belajar 6 tahun, melalui Sekolah Dasar, akses pendidikan meningkat dan mendorong angka partisipasi anak usia sekolah, serta mampu menekan angka buta aksara (Panji Hidayat, 2016).
Berdasarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Indeks Aktivitas Literasi Membaca (2019), pemberantasan buta aksara mengalami penurunan signifikan, 39,1 persen penduduk yang buta huruf pada tahun 1971 menurun menjadi 15,9 persen di tahun 1990. Di era reformasi, angka buta aksara juga mengalami penurunan dari 10,1 persen pada tahun 2000 menjadi 4,4 persen pada tahun 2014. Namun sayangnya, keberhasilan pemerintah dalam meluaskan akses pendidikan dan memberantas buta aksara, belum diikuti dengan keberhasilan dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil Indeks Aktivitas Literasi Membaca (2019) yang menunjukkan, hanya 9 provinsi yang masuk dalam kategori sedang (40.01 – 60.00), 24 provinsi dalam kategori rendah (20.01 – 40.00) dan satu provinsi yang berkategori sangat rendah (20.01 – 40.00). Adapun rata-rata Indeks Aktivitas Literasi Membaca secara nasional berada di posisi 37,32 persen dan angka tersebut tergolong rendah. Lalu, faktor apa yang menyebabkan tingkat literasi masyarakat Indonesia dalam kategori rendah?
Penyebab Rendahnya Literasi Masyarakat Indonesia
Berdasarkan kumparan.com dan eduenter.id, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah, sehingga memengaruhi kemampuan literasi masyarakat di Indonesia, di antaranya:
- Belum adanya penanaman minat baca sedari dini. Orang tua sebagai role model anak, berperan penting dalam menumbuhkan minat baca anak, sehingga anak tidak hanya bisa membaca, tetapi juga bisa menalar.
- Minimnya akses fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan yang ada di Indonesia, dirasa belum merata dan kualitas sarana pendidikan di beberapa daerah masih minim. Hal ini tentu berpengaruh pada aktivitas literasi masyarakat Indonesia.
- Perkembangan teknologi yang canggih. Adanya teknologi dapat berpeluang untuk memberikan kemudahan dalam akses informasi, sehingga masyarakat dapat memproses informasi serta menalarnya, tanpa perlu membutuhkan waktu yang lama. Namun, teknologi juga menawarkan berbagai sosial media sebagai media informasi. Kehadiran sosial media atau aplikasi hiburan pada gawai, menjadikan masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu bersama gawai daripada membaca buku.
3 faktor yang menjadi penyebab rendahnya literasi di Indonesia menunjukkan bahwa penyebab tersebut dapat diatasi dengan menemukan cara yang tepat. Penyebab yang berupa hambatan pasti dapat menjadi peluang, sehingga budaya literasi dapat tertanam di setiap diri masyarakat Indonesia.
Meningkatkan Literasi di Indonesia
Dalam meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi di Indonesia, tentunya membutuhkan peran negara, lingkungan dan masyarakat. Apabila hanya satu elemen saja yang berperan, tingkat literasi di Indonesia akan terus menetap di kategori rendah, di mana tingkat literasi setiap daerah tidak merata. Berikut upaya yang bisa dilakukan dalam meningkatkan minat baca dan literasi di Indonesia:
- Belajar Membaca Sembari Menulis
Berdasarkan penelitian Annika A. G dan Ake G (2013) didapati hasil bahwa meningkatkan kemampuan literasi melalui belajar mambaca sembari menulis dapat meningkatkan keterampilan membaca dan menulis. Siswa yang menjadi obyek pengujian, mampu menulis teks yang lebih panjang dan terstruktur dengan konten tulisan yang jelas serta dengan bahasa yang rumit. Tentu dalam hal ini, menunjukkan pula kegiatan membaca yang dilanjutkan dengan kegiatan menulis, akan memantik proses penyaringan informasi dan dilakukannya penalaran terhadap topik yang dibaca.
2. Memanfaatkan Teknologi
Sebagaimana yang diketahui bahwa teknologi seperti pedang bermata dua. Teknologi dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan minat baca dan literasi, dikarenakan distraksi yang ditawarkan oleh teknologi, seperti permainan online yang menyenangkan, sosial media yang memunculkan berbagai macam informasi, dari yang penting sampai yang tidak penting dan lainnya. Di sisi lain, teknologi dapat menjadi peluang untuk meningkatkan minat baca dan literasi dengan menjadikan teknologi sebagai media untuk buku, koran, booklet dan lainnya menjadi versi digital. Hal ini pun menjadikan informasi yang bermanfaat dapat diakses dengan mudah.
- Meningkatkan Partisipasi Orang Tua dalam Membentuk Lingkungan Literasi di Rumah
Rumah menjadi tempat belajar pertama bagi anak dan orang tua merupakan guru pertama bagi anak. Menjadi penting bagi orang tua untuk mulai menumbuhkan minat baca dan literasi kepada anak sedari dini. Hal ini dapat dimulai dari orang tua yang berkomitmen untuk menghidupkan lingkungan literasi di rumah, melalui membaca dongeng ketika anak mau tidur, mengakrabkan anak dengan buku, membantu anak dalam proses membaca buku serta menulis dan lainnya.
Berbagai upaya yang telah dipaparkan tidak akan berjalan jika tidak ada aksi nyata. Selain aksi, kolaborasi juga menjadi penting dalam meningkatkan minat baca dan literasi di Indonesia. Rasanya, akan berakhir percuma apabila pemerintah mengeluarkan anggaran untuk peningkatan literasi, tetapi dalam implementasinya, anggaran tersebut berlalu begitu saja, dikarenakan sekolah dan rumah tidak menjadi lingkungan yang ramah dalam peningkatan literasi. Maka dalam hal ini, diperlukan mitra strategis yang mampu mengelola anggaran dari pemerintah, mendesain program peningkatan literasi dan memastikan program terimplementasikan dengan baik.
Tentu dalam hal ini pula, inisiatif dari berbagai organisasi diperlukan untuk mewujudkan Indonesia yang berliterasi, termasuk pada daerah pelosok negeri, yang sangat membutuhkan peningkatan minat baca dan literasi. Keterbatasan akses pendidikan, buku dan media baca lainnya serta kualitas pendidikan yang belum merata menjadikan masyarakat di daerah pelosok, tidak mendapatkan haknya dari segi pendidikan, termasuk hak untuk bisa membaca dan menalar. Berbagai organisasi dapat menjawab tantangan ini dengan berbagai solusi, salah satu di antaranya melalui penyaluran dana corporate social responsibility (CSR).
Dampak Sosial Indonesia, selaku konsultan CSR, dapat menjadi mitra strategis berbagai pemangku kepentingan, dalam memajukan literasi di Indonesia. Dampak Sosial Indonesia akan berupaya menciptakan anggaran yang telah dikeluarkan oleh berbagai organisasi dan CSR, menjadi program yang berdampak besar bagi penerimanya dan berkelanjutan. Selain itu, Dampak Sosial Indonesia dapat memastikan program terimplementasi dengan baik, sehingga peningkatan literasi bukan hanya solusi di lisan saja, tetapi diwujudkan dengan aksi dan kolaborasi.
Source:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. Indeks Aktivitas Literasi Membaca . http://repositori.kemdikbud.go.id/13033/1/Puslitjakdikbud_Indeks%20Aktivitas%20Literasi%20Membaca%2034%20Provinsi [Diunduh pada 3 Agustus 2020]
Katadata.co.id. 2020. Tingkat Literasi Indonesia Masih Rendah. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02/27/tingkat-literasi-indonesia-masih-rendah [Diunduh pada 3 Agustus 2020]
Panji Hidayat, 2016, dalam Indeks Aktivitas Literasi Membaca. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. Indeks Aktivitas Literasi Membaca . http://repositori.kemdikbud.go.id/13033/1/Puslitjakdikbud_Indeks%20Aktivitas%20Literasi%20Membaca%2034%20Provinsi [Diunduh pada 3 Agustus 2020]
Nurul Iswari. 2017. Ini Penyebab Rendahnya Minat Baca di Indonesia. https://kumparan.com/nurul-iswari/ini-penyebab-rendahnya-minat-baca-di-indonesia-1504967041086/full [Diunduh pada 3 Agustus 2020]
Educenter.id. 2017. 5 Penyebab Rendahnya Budaya Literasi di Indonesia. https://www.educenter.id/5-penyebab-rendahnya-budaya-literasi-di-indonesia/ [Diunduh pada 3 Agustus 2020]
Annika Agelii G, Ake Grounlund. 2013. Improving Literacy Skills Through Learning Reading by Writing: The iWTR Method Presented and Tested. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0360131513000857 [Diunduh pada 3 Agustus 2020]