Klepon : Pemaknaan Rasa Manis yang Berdampak Pada Lingkungan

Klepon : Pemaknaan Rasa Manis yang Berdampak Pada Lingkungan

Klepon : Pemaknaan Rasa Manis yang Berdampak Pada Lingkungan 924 615 Dampak Sosial

Baru-baru ini, makanan Indonesia, yang bernama Klepon viral di Internet. Menurut akun Facebook Mayumi Fujimoto, keviralan ini diawali oleh sebuah post foto klepon di Facebook Erma Retang dengan keterangan “Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami, dengan cara membeli jajanan Islami, aneka Kurma tersedia di toko syariah kami“, dengan kredit bertuliskan “Aku Ikhwan Aziz”. Walaupun sekarang berita klepon yang tidak islami sudah dianggap sebagai operasi false flag karena tidak ditemukan sumber aslinya, namun ternyata berita mengenai klepon ini membuat orang-orang menjadi membicarakan klepon, salah satu makanan Indonesia yang khas akan kemanisannya.

 

Klepon dan Sejarahnya Di Indonesia

Klepon adalah makanan jajanan di Indonesia yang berbentuk bola kecil hijau, berisikan gula merah lumer di dalamnya, dan pada penyajiannya ditaburi oleh parutan kelapa. Klepon sering dicocoklogikan dengan makanan khas jawa yang serba manis. Banyak yang hanya menganggap makanan jawa serba manis ini adalah sebuah stigma masyarakat. Namun, ternyata setelah ditelusuri lebih lanjut, makanan khas jawa dan rasa manis ternyata memilki sejarah yang lumayan panjang, dan bukan hanya sekedar cocoklogi.

Dilansir dari blog Yusran Darmawan, rasa manis yang ditemukan dari makanan khas jawa berasal dari pengaruh kedatangan Belanda ke Indonesia. Pada tahun 1830, kebijakan yang berasal dari Gubernur Jenderal Van den Bosch memberlakukan kebijakan tanam paksa untuk mengisi kas pemerintahan yang kosong. Para petani Jawa, pada saat itu, hanya boleh menanam tebu dan kopi, yang laku di pasar Internasional, demi kebijakan ekspor dan impor. Efek yang ditimbulkan adalah supply dari tebu yang menghasilkan rasa manis, mempengaruhi preferensi konsumsi masyarakat.

Pengaruh preferensi konsumsi masyarakat ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sanjur (1982). Sanjur mengatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor utama yang mempengaruhi konsumsi makanan. Yaitu : karakteristik individu, karakteristik makanan, dan karakteristik lingkungan. Proses perubahan preferensi makanan yang akhirnya membuat banyak makanan khas jawa terasa manis berasal dari karakteristik lingkungan. Pekerjaan dan keadaan sosial yang ada memaksa orang jawa untuk dapat mengubah makanannya menjadi makanan manis.

 

Pentingnya Memperhatikan Kebijakan Perusahaan

Walaupun hal yang mempengaruhi preferensi makanan di Jawa bukan hanya dari faktor lingkungan, namun dari contoh kasus di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sebuah kebijakan yang diberlakukan pada suatu daerah dapat mengubah sedikit banyak kebudayaan di daerah tersebut. Yang harus diperhatikan lagi adalah, kebijakan tersebut tidak hanya harus berasal dari pemerintah saja, namun korporasi juga.

Contoh nyatanya dapat kita lihat dari Kalimatan pada saat ini. Berdasarkan Jurnal “Four Decades of Forest Persistence, Clearance and Logging on Borneo” (Gaveau DLA et al, 2014) menyebutkan bahwa sejak tahun 1973, hutan Kalimantan sudah berkurang lebih dari 30%. World Wildlife Fund menambahkan bahwa menurut prediksi mereka pada tahun 2017, Hutan Kalimantan akan kehilangan 75% bagiannya di tahun 2020. Deforestasi ini disebabkan oleh kebakaran, industri penebangan kayu, dan industri perkebunan.

Sampai 50 tahun yang lalu, Hutan Kalimantan adalah tempat yang menjadi rumah bagi suku-suku nomaden, dan habitat bagi orang utan, gajah, badak, serta berbagai fauna lainnya. Namun sekarang, dikarenakan deforestasi ini, tradisi Suku Kalimantan dan fauna yang tinggal disana ada diambang kepunahan. Hilangnya hutan yang ditambah dengan bertambahnya emisi karbon yang dihasilkan dari industri-industri di Kalimantan menyebabkan bertambah parahnya situasi disana.

 

Menumbuhkan Harapan Dengan CSR Berbasis SDGs

Jika keadaan kerusakan lingkungan ini terus berlanjut, maka bukan fauna yang hidup disana saja yang akan kesusahan, namun manusia yang hidup di sekitarnya juga akan mengalami kemalangan. Diperlukan sebuah aksi nyata yang berasal dari perusahaan yang turut terlibat dari perusakan lingkungan di Kalimantan. Bukan hanya sekedar aksi CSR biasa, namun CSR yang berbasis dari SDGs.

Dengan penerapan CSR berbasis SDGs, diharapkan dampak yang diberikan dari kegiatan CSR tidak hanya sebagai bentuk pencitraan perusahaan saja. Namun juga sesuai dengan target pembentukan dunia untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu, diperlukan banyak ide CSR baru yang kreatif untuk dapat membantu terwujudnya lingkungan yang lebih baik.

Dampak Sosial Indonesia dapat membantu pelaksanaan kegiatan CSR yang berbasis SDGs. Dengan tiga program kami, yaitu : Pemetaan Sosial, Implementasi Program, dan Pengukuran Dampak, akan membantu berbagai perusahaan untuk dapat menjalankan kegiatan CSR yang lebih baik. Tidak hanya untuk perusahaan itu sendiri, namun juga kepada lingkungan sekitar.

 

Referensi

Darmawan, Yusran. (2015). Mengapa Kuliner Jawa Terasa Manis?. Timur Angin. <http://www.timur-angin.com/2015/08/mengapa-kuliner-jawa-terasa-manis.html>  Diakses pada 27 Juli 2020.

DW. (2017). WWF: Kalimantan Bakal Kehilangan 75 Persen Hutan Pada 2020. DW. <https://www.dw.com/id/wwf-kalimantan-bakal-kehilangan-75-persen-hutan-pada-2020/a-39124270> Diakses pada 27 Juli 2020.

Gaveau DLA, Sloan S, Molidena E, Yaen H, Sheil D, Abram NK, et al. (2014). Four Decades of Forest Persistence, Clearance and Logging on Borneo. PLoS ONE 9(7): e101654.

Mansur, Ali. (2015). Kue Klepon tidak Islami, Fakta atau Ulah False Flag Buzzer?. Republika. <https://republika.co.id/berita/qdtpmh320/kue-klepon-tidak-islami-fakta-atau-ulah-emfalse-flag-buzzer-em> Diakses pada 27 Juli 2020

Sanjur, D. (1982), Social and Cultural Perspectives in Nutrition, Prentice – Hall, Inc. Enlewood Cliffs, N.Y, pp.5.