Plastik : Limbah Bermasalah, Namun Berpotensi

Plastik : Limbah Bermasalah, Namun Berpotensi

Plastik : Limbah Bermasalah, Namun Berpotensi 924 693 Dampak Sosial

Pada tahun 2015, muncul video viral yang menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga lingkungan dari kita plastik. Video yang diunggah oleh kanal youtube bernama “Sea Turtle Biologist” itu berisikan pengangkatan sedotan plastik dari hidung penyu yang berada di laut. Video ini langsung viral dan mendapat perhatian dari banyak pihak. Hingga saat ini, video itu sudah ditonton lebih dari 39 juta kali sejak pertama kali di upload. Sebenarnya selain video penyu ini, juga sudah banyak hal yang menjadi isu permasalahan plastik di seluruh dunia. Namun, video ini mengingatkan kita akan kerusakan yang telah dibuat oleh plastik di laut.

Data Fakta di Lapangan

Menurut data yang diperoleh dari National Geographic, pada tahun 2015, jumlah pecahan plastik yang berada di lautan mencapai 5.25 triliun dan angka ini terus bertambah. Dalam jumlah yang sangat besar ini, Indonesia merupakan penyumbang limbah plastik tersebesar ke dua di dunia, yaitu sebesar 10% dari keseluruhan limbah plastik di seluruh dunia (Our World In Data, 2018). Hal ini sangat mengkhawatirkan, apalagi jika kembali diingat fakta plastik ini juga mempengaruhi pandangan turis pada Bali, pada tahun 2018 lalu.

Upaya Mengatasi Permasalahan dari Seluruh Dunia

“We’re never going to recycle our way out of this plastic crisis”
– Kevin Stairs, seorang ekspert di Greenpeace

Satu-satunya upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah plastik di lautan adalah mendaur ulangnya. Berangkat dari ide awal mendaur ulang, banyak pihak telah mencoba untuk mengurangi masalah ini dengan berbagai macam. Misalnya ide yang berasal dari perusahaan Coca-Cola. Perusahaan ini memproduksi botol dengan komposisi 25% berasal sampah plastik yang berasal dari lautan. Hal serupa juga dilakukan oleh Adidas, perusahaan multinasional yang bergerak di bidang. Perusahaan ini mendesain produk baru, yang bekerja sama dengan Taylor, dari sampah jaring ikan yang berada di lautan.

Produk yang dikeluarkan oleh kedua perusahaan ini mendapat respon yang baik dari masyarakat. Mereka merasa telah berkontribusi akan upaya perbaikan lingkungan. Sesuai hukum penawaran dan permintaan, pada akhirnya Inovasi ini akan menjadi trend baru bagi perusahaan-perusahaan yang ada di dunia.

Upaya Indonesia

Di Indonesia sendiri, trend gerakan tanpa plastik baru digaungkan sejak tahun 2018 dimana sedotan stainless steel booming di pasar Indonesia. Hal ini disinyalir dikarenakan gerakan serupa juga digaungkan di negara Amerika pada tahun yang sama. Sejak saat itu mulai banyak gerakan-gerakan yang lebih ramah lingkungan dengan pengurangan plastik.

Salah satu inisiator gerakan muncul dari Pemerintahan Daerah Bali. Gurbernur Bali, Wayan Koster, menerapkan pelarangan penggunaan plastik sejak awal tahun 2019 lalu. Akhirnya gerakan ini diikuti oleh berbagai daerah lain di Indonesia, seperti Depok, yang melarang penggunaan plastik sekali pakai sejak 1 Maret 2020 dan Jakarta, yang memulai peraturan serupa pada 1 Juli 2020.

Gerakan tanpa plastik akhirnya juga muncul dari UKM sebagai bentuk adaptasi dari peraturan pemerintah yang dibersamai concern mereka terhadap isu lingkungan. Contoh yang dapat diambil mungkin bisa dilihat dari indutsri kopi di Indonesia. Fore Coffee, salah satu UKM kopi, menggunakan gelas yang dapat dipakai berulang-ulang untuk kemasan take away-nya. Hal ini dianggap dapat mempermudah proses daur ulang, yang sesuai dengan mottonya. Plastik yang digunakan Fore Coffee pun merupakan plastik yang berbeda dari plastik pada umumnya. Plastik ini dapat terurai sendiri dengan sendirinya pada rentang waktu yang relatif sebentar apabila dibandingkan dengan plastik biasa.

Kebutuhan Untuk Berubah

Pada akhirnya, kegiatan peduli lingkungan ini tidak akan menjadi trend belaka, namun akan menjadi sebuah kebiasaan baru yang akan sangat berpengaruh pada segala industri di Indonesia. Diperlukan banyak trobosan baru untuk dapat mengubah perilaku tidak sehat yang dilakukan perusahaan menjadi perilaku yang ramah lingkungan. Dampak Sosial Indonesia, salah satu konsultan CSR terbaik, bisa menjadi salah satu mitra yang memberikan konsultasi mengenai permasalahan ini.

Referensi

Peker, E., 2020. Companies Go To New Depths For Ocean Plastic In Recycling Push. [online] WSJ. Available at: <https://www.wsj.com/articles/companies-go-to-new-depths-for-ocean-plastic-in-recycling-push-11572875512> [Accessed 16 July 2020].

Houck, B. 2018. How The Plastic Straw Ban Became The Biggest Trend Of 2018. [online] Available at: <https://www.eater.com/2018/12/27/18156734/plastic-straw-ban-biggest-trend-2018> [Accessed 16 July 2020].

Ritchie, H. and Roser, M., 2018. Plastic Pollution. [online] Our World in Data. Available at: <https://ourworldindata.org/plastic-pollution> [Accessed 16 July 2020].

Laura, P., 2015. Ocean Trash: 5.25 Trillion Pieces And Counting, But Big Questions Remain. [online] Nationalgeographic.com. Available at: <https://www.nationalgeographic.com/news/2015/1/150109-oceans-plastic-sea-trash-science-marine-debris/> [Accessed 16 July 2020].

The ASEAN Post. 2018. Indonesia’S Plastic Waste Problem. [online] Available at: <https://theaseanpost.com/article/indonesias-plastic-waste-problem> [Accessed 16 July 2020].

Media, K., 2020. Hari Ini, Larangan Penggunaan Kantong Plastik Berlaku Di Jakarta Halaman All – Kompas.Com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://money.kompas.com/read/2020/07/01/065253626/hari-ini-larangan-penggunaan-kantong-plastik-berlaku-di-jakarta> [Accessed 16 July 2020].

Kurniawati, E., 2019. Gubernur Bali Larang Penggunaan Kantong Plastik Dan Styrofoam. [online] Tempo. Available at: <https://nasional.tempo.co/read/1158371/gubernur-bali-larang-penggunaan-kantong-plastik-dan-styrofoam> [Accessed 16 July 2020].

Siregar, I., 2020. Retail Dukung Pelarangan Kantong Plastik – RADAR DEPOK | Koran Depok Sesungguhnya. [online] Radardepok.com. Available at: <https://www.radardepok.com/2020/03/retail-dukung-pelarangan-kantong-plastik> [Accessed 16 July 2020].

Coffee, F., 2020. Fore Coffee Gunakan Gelas Plastik Yang Dapat Digunakan Berulang Kali – Fore Coffee. [online] Profile.fore.coffee. Available at: <https://profile.fore.coffee/fore-coffee-gunakan-gelas-plastik-yang-dapat-digunakan-berulang-kali/> [Accessed 16 July 2020].