Pendidikan, Jembatan Menuju Impian
Pendidikan merupakan hak bagi setiap anak di seluruh dunia, tak terkecuali di negara terbelakang sekalipun. Pendidikan formal biasanya dilaksanakan di kelas secara tatap muka antar guru dan murid. Namun, bagaimana jika belajar di dalam kelas yang kondisinya berkerumun itu dilarang hingga waktu yang tidak ditentukan?
Seperti yang kita ketahui, pandemi COVID-19 menyerang berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan. Dalam rangka pencegahan penularan COVID-19 di kalangan pelajar, pemerintah menerapkan sistem PJJ (Pendidikan Jarak Jauh) atau kelas daring se-Indonesia.
Bagi para pelajar yang memiliki sarana berupa gawai (gadget, pen.) dan berada di daerah pusat atau daerah yang akses internet dapat terjangkau dengan lancar, menjalankan sistem PJJ sangatlah mudah, bahkan menjadi suatu keuntungan. Namun, beda lagi ceritanya dengan pelajar yang berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dan tidak memiliki gawai.
Realita Pendidikan di Masa Pandemi
Dilansir dari kumparan.com, sinyal internet yang belum tersedia merata sering membuat pelajar di area blank spot kerepotan. Seperti yang dialami anak-anak di Dusun Petir B, Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul ini. Wilayah tempat tinggal mereka adalah blank spot karena pancaran sinyal internet dari tower seluler terhalang oleh gunung.
Untuk belajar, puluhan pelajar asal Padukuhan ini harus berjuang untuk bisa mendapatkan sinyal di gawai mereka. Di mana untuk mengerjakan tugas, puluhan siswa di Padukuhan tersebut harus berjalan cukup jauh ke atas bukit demi mendapatkan sinyal internet yang ideal untuk gawai mereka.
Lain halnya dengan Kisah Dedi Kurniawan, salah seorang guru kelas IV di SDN 75/I Pasar Terusan Batanghari, Provinsi Jambi yang berkeliling mengunjungi rumah siswanya untuk mengajar di masa pandemi ini.
Keputusan Dedi Kurniawan untuk mendampingi siswanya belajar dari rumah bukan tanpa alasan. Dari 28 siswa, ada beberapa orang tua siswa yang tidak memiliki telepon pintar (Smartphone), juga tidak punya laptop. Sebagian lagi mengaku sinyal internet di rumahnya kurang bagus.
Untuk mengatasinya, Ia berinisiatif melakukan pendampingan siswa secara langsung ke rumah siswa. Pada pendampingan belajar ini, Dedi tetap menjalankan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menggunakan hand sanitizer, dan selalu memakai masker.
“Siswa yang rumahnya berdekatan, saya minta untuk belajar bersama. Jumlahnya maksimal tiga anak agar mereka bisa menjaga jarak dalam belajar, dan saya minta mereka juga memakai masker,” kata Dedi, Sabtu (2/5)
Peran Perusahaan Bagi Rakyat Pelosok
Mengutip dari detik.com, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan saat ini dana Corporate Social Responsibility (CSR) BUMN dinilai belum fokus pada sektor pendidikan dan lingkungan di Indonesia. Dana CSR BUMN yang mengalir ke sektor pendidikan hanya 22% dan lingkungan 1% tiap tahunnya.
Erick mengungkapkan, padahal BUMN saat ini memiliki dana CSR yang cukup besar. Menurut Erick, penyebaran CSR sejauh ini masih berpusat di pulau Jawa, padahal anak-anak di luar Jawa juga perlu mendapatkan kualitas pendidikan yang sama.
“Makanya kita mau naikkan CSR pendidikan kalau bisa 30%, lingkungan 5%. Boleh dong, menteri baru fokus ke situ,” imbuh dia.
Menurut Erick, CSR harus lebih banyak memberikan manfaat pada rakyat. “Kita berkontribusi besar untuk pembangunan bangsa Rp 467 triliun dari dividen dan pajak. Tapi mana kue yang besar? Ini yang mau disinergikan. Bukan salah dan benar menteri sebelumnya, kita harus moving forward. Setiap pemimpin ada kelebihan dan kekurangannya,” jelas dia.
Upaya Konsultan CSR dalam Menghubungkan Perusahaan dengan Rakyat
Sebagai konsultan CSR, Dampak Sosial Indonesia, berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi jembatan antara perusahaan dengan rakyat yang membutuhkan bantuan. Melalui program pemetaan sosial, Dampak Sosial Indonesia akan membantu perusahaan mengidentifikasi kondisi sosial budaya masyarakat wilayah yang akan dijadikan wilayah sasaran program sehingga dana yang dialokasikan dapat tepat sasaran.
Source:
https://m.kumparan.com/amp/tugujogja/cerita-pelajar-di-gunungkidul-yang-rela-naik-ke-bukit-untuk-kerjakan-tugas-1tMXStqqdb9 [Diakses pada 15 Juli 2020]
https://m.kumparan.com/amp/jambikita/kisah-guru-di-pelosok-jambi-dampingi-siswa-yang-tak-punya-akses-internet-1tKx2YikTo9 [Diakses pada 15 Juli 2020]
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4822684/erick-thohir-mau-dana-csr-bumn-lebih-banyak-buat-pendidikan [Diakses pada 15 Juli 2020]