Seperti kita ketahui bahwa Nabi dan Rasul memiliki sifat-sifat yang membuat mereka istimewa dan bisa mengemban amanah kenabiannya. Diantara sifat-sifat nya yaitu shiddiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas). Sifat-sifat inilah yang membuat para nabi dan rasul dapat dengan baik mengemban tugas kenabiannya dalam menyampaikan wahyu yang diturunkan Allah kepada umat-Nya sebagai pedoman hidup mereka.
Kali ini saya akan membahas tentang salah satu sifat dari para nabi dan rasul yaitu fathanah atau cerdas. Nabi tentunya harus cerdas agar mereka bisa menghadapi segala urusan dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan tepat dan juga cepat. Namun apa sebenarnya definisi dari kecerdasan? Definisi kecerdasan memang sangat banyak. Ada yang bilang bahwa kecerdasan adalah bagaimana kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan hitung-menghitung, hafal-menghafal, dsb. yang membutuhkan kemampuan kognisi yang baik. Ada juga yang menjelaskan bahwa kecerdasan adalah bagaimana kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Bahkan ada yang membagi kecerdasan menjadi beberapa jenis, misalnya kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Tiga jenis kecerdasan itulah yang biasanya dikenal oleh masyarakat.
Namun ternyata terdapat pula kecerdasan yang dimiliki seseorang sehingga ia bisa bertahan dari berbagai macam gangguan, rintangan, yang seringkali membuat seseorang stress dan menyerah dari pekerjaan yang ia lakukan. Kecerdasan ini disebut juga Adversity Quotient (AQ). Adversity Quotient (AQ) pertama kali dicetuskan oleh Stoltz pada tahun 1997. Ia mendefinisikan Adversity Quotient (AQ) sebagai kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memenej kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (Cornista dan Macasaet, 2013). Ia menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak bisa menghandle kesulitan-kesulitan ini akan menyerah dan tidak mencoba lagi pekerjaan mereka. Kemampuan inilah yang berguna untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.
Adversity Quotient (AQ) adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memenej kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (Cornista dan Macasaet, 2013). Orang-orang yang tidak bisa menghandle kesulitan-kesulitan ini akan menyerah dan tidak mencoba lagi pekerjaan mereka. Kemampuan inilah yang berguna untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.
Dan ternyata jika kita merefleksikan ini pada diri nabi dan rasul banyak sekali diantara mereka yang memiliki kecerdasan AQ ini dengan kadar yang tinggi. Salah satu contohnya adalah Nabi Nuh. Beliau merupakan salah satu dari lima rasul Ulul ‘Azmi yang merupakan rasul yang kuat dan sangat sabra dalam menghadapi berbagai ujian yang berat. Nabi Nuh merupakan Nabi yang banyak diuji oleh Allah. Salah satunya adalah anak dan istrinya sendiri yang membangkang kepadanya dan tidak mau mengikuti ajarannya. Jika dihitung, Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun dan hanya sedikit sekali orang-orang yang akhirnya menjadi pengikut beliau. Dalam beberapa riwayat hanya belasan orang yang menjadi pengikut setianya hingga akhir. Namun, beliau tidak pantang menyerah, beliau tetap berdakwah malam dan siang hingga akhir usianya. Sungguh ini adalah cerminan orang yang memiliki Adversity Quotient (AQ) yang tinggi.
Menurut G dan Gupta (2015), Adversity Quotient (AQ) memiliki empat komponen perilaku yang menyusunnya. Yang pertama yaitu kontrol. Kontrol disini dimaksudkan sebagai sejauh mana seseorang dapat mengontrol kejadian-kejadian yang ia rasa dapat merugikannya. Yang kedua yaitu ownership atau tanggung jawab. Tanggung jawab disini dapat diartikan dengan sejauh mana seseorang bertanggung jawab atas kejadian-kejadian yang merugikan. Bisa juga diartikan dengan sejauh mana ia dapat bertanggung jawab dalam memperbaiki situasi setelah terjadinya kejadian yang merugikan. Yang ketiga yaitu reach atau jangkauan. Pengertiannya adalah sejauh mana seseorang merasakan bahwa kejadian yang merugikan itu memengaruhi bidang-bidang kehidupannya yang lain. Dan yang terakhir adalah endurance atau ketahanan. Maksud dari hal ini adalah persepsi seseorang yang merasa seberapa lama kejadian baik atau buruk yang menimpa mereka beserta akibatnya dapat bertahan.
Jika direfleksikan dengan Nabi Nuh, tentunya ke empat komponen ini dimiliki oleh beliau dengan kadar yang baik. Misalnya, Nabi Nuh ketika mengalami cercaan dari kaumnya yang mengejeknya ketika ia membuat kapal, maka ia dapat mengontrol emosinya sehingga tidak sampai ia melakukan kekerasan ataupun balasan cercaan terhadap mereka. Bahkan Nabi Nuh lebih memilih berdoa kepada Allah siang dan malam agar kaumnya, termasuk istri dan anaknya, mau menerima ajakannya untuk menyembah Allah agar selamat dari ancaman banjir bandang.
Komponen AQ yang kedua yang juga dimiliki oleh Nabi Nuh adalah ownership dimana ia mampu mempertanggung jawabkan atas perintahnya kepada kaumnya untuk membuat bahtera. Ia dapat menjawab segala pertanyaan dan keraguan kaumnya bahwa nanti akan benar-benar terjadi banjir bandang sehingga mereka harus membuat bahtera besar agar selamat. Ia tidak ragu dan tidak mundur ketika kaumnya meragukannya dan menganggapnya orang gila karena membangun kapal besar di dataran tinggi.
Cercaan, hinaan, dan penolakan yang ia terima dari kaumnya tidak membuatnya menjadi stress ataupun sampai memengaruhi konsentrasinya dalam berdakwah maupun dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Nuh memiliki komponen ketiga dalam AQ yaitu reach, dimana masalah yang ia hadapi tidak sampai memengaruhi kualitas dari bidang kehidupannya yang lain. Dan yang terakhir yaitu endurance, dimana Nabi Nuh percaya bahwa bahtera ini akan selesai walaupun hanya sedikit orang yang membantunya. Beliau juga percaya bahwa hujan lebat benar-benar akan datang dan menenggelamkan semua yang ada kecuali orang-orang yang menaiki bahtera, mereka akan selamat.
Itulah bukti-bukti dari salah satu sifat para Nabi yang ada pada diri Nabi Nuh. Sifat ini haruslah kitta contoh. Bukan berarti bahwa sifat-sifat tersebut hanya bisa dimiliki oleh para Nabi dan Rasul. Namun, kita sebagai pengikutnya haruslah meneladani sifat-sifat mereka agar kita bisa meneruskan perjuangan mereka dalam menegakkan kalimat Allah.
Daftar Pustaka
Cornista, G. A. L. & Macasaet, C. J. A. (2013). Adversity quotient® and achievement motivation of selected third year and fourth year psychology students of De La Salle Lipa a.y. 2012-2013. Diakses dari https://www.peaklearning.com/documents/PEAK_GRI_cornista-macasaet.pdf
G, Hema. & Gupta, S. M. (2015). Adversity quotient for prospective higher education. The international journal of indian psychology, 3, 49-64. Diakses dari http://oaji.net/articles/2015/1170-1432714388.pdf