Mengabdikan diri di organisasi non profit, mungkin jarang terdengar menjadi salah satu pekerjaan impian favorit yang diinginkan para pencari kerja. Ironisnya, hal ini tetap terjadi hingga kini ditengah banyaknya suara para pencari kerja yang mengaku enggan berkompromi dengan gaya hidup transaksional yang memang kental di dunia korporasi. Istilah “tidak ingin jadi budak korporat” sering menjadi bahan candaan di kalangan fresh graduate. Namun idealisme tersebut seringkali harus mengalah apabila dibenturkan dengan kenyataan hidup.
Apa saja yang dimaksud dengan lembaga non profit? Ada 7 jenis organisasi non profit yang didefinisikan oleh Badan Pusat Statistik (2014) yaitu organisasi kemasyarakatan (Ormas), organisasi sosial (Orsos), organisasi profesi (Orprof), perkumpulan sosial/kebudayaan/olahraga/hobi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga keagamaan, organisasi bantuan kemanusiaan dan beasiswa.
Lembaga non profit tak lagi populer untuk menjadi alternatif pekerjaan idaman pencari kerja yang mengaku enggan bekerja di korporasi. Alternatif utama yang populer adalah mencoba bekerja di institusi pemerintahan atau menempuh jalur akademik sebagai calon pendidik, maupun mendirikan perusahaan startup sendiri, dengan semangat yang sama yaitu membantu melayani kebutuhan banyak orang.
Persaingan dan bertahan untuk bekerja ke institusi pemerintahan, menempuh jalur akademik, maupun mendirikan startup tersebut, tentu tidak semudah kelihatannya. Pada akhirnya, tetap saja lembaga non profit sulit sekali untuk mendapatkan talenta terbaik yang diproduksi dunia pendidikan.
Dalam prakteknya, lembaga non profit merupakan pendorong dan mitra utama pemerintah dalam mengurusi hajat hidup orang banyak. Dalam sejarahnya lembaga non profit ini sudah lebih dulu berkembang bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebut saja organisasi kemasyarakatan Boedi Oetomo (1908), Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926), dan banyak organisasi lainnya.
Keberadaan organisasi tersebut juga merupakan salah satu pendorong utama agar Indonesia bisa merdeka. Bayangkan hidup kita tanpa sekelompok lembaga non profit tersebut, mungkin saat ini kita masih “menikmati hidup” yang tak berdaulat di atas kaki sendiri.
Bekerja di dunia non profit, memang perlu persiapan mental tersendiri. Lewat tulisan ini, ijinkan saya membagikan pengalaman bagaimana rasanya bekerja di dunia non profit.
Pertama adalah soal reputasi pribadi. Bekerja di dunia non profit memang terdengar keren pada awalnya. Kesan bahwa kita mengabdi dan “berkorban” untuk kebutuhan orang lain memang sangat heroik di telinga. Namun pekerjaan mulia tersebut kadang memang bukan sesuatu yang mudah untuk dibanggakan oleh diri sendiri, karena persepsi yang melekat di masyarakat awam bahwa pekerja di sektor non profit adalah pekerja yang tidak diterima bekerja di tempat lain. Mungkin memang mayoritas orang berpikir bahwa bekerja atas nama idealisme bukanlah motif utama seseorang dalam pemilihan pekerjaan.
Kedua soal impresi bahwa bekerja di non profit berarti rela dibayar murah daripada standar. Dalam prakteknya, standar bekerja profesional di non profit tidaklah jauh dari gambaran pekerjaan di korporasi. Kenyataannya masih banyak pekerja di dunia korporasi yang juga dibayar dibawah UMR. Dalam dunia non profit, bila kita sudah ada di tahap konsultan atau expert, bahkan dengan bekerja lepasan saja bisa menghasilkan jauh lebih besar. Fleksibilitas yang umumnya diberikan oleh lembaga non profit, membuat pekerja di sektor ini memungkinkan bekerja di lebih dari satu project dalam satu waktu, sebagai side hustle dan tambahan penghasilan.
Namun memang perlu diakui bahwa terbatasnya sumber finansial yang sustain memang seringkali menjadi kendala Lembaga Non Profit untuk mampu menerima lebih banyak orang untuk bekerja penuh waktu. Menurut hasil publikasi penelitian BPS (2022), pada tahun 2020 rata-rata lembaga non profit hanya memiliki 8 jumlah pekerja yang dibayar dan sekitar 30 orang relawan (pekerja yang tidak dibayar). Dari 8 orang rata-rata pekerja yang dibayar tersebut, hanya sekitar 70%nya saja yang menjadi pegawai tetap.
Jika dibandingkan diantara 7 jenis lembaga non profit, organisasi dengan latar belakang keagamaan, mengeluarkan biaya lebih besar untuk SDM yaitu sebesar 30.07 persen. Sementara organisasi yang paling sedikit mengeluarkan biaya kompensasi SDM adalah organisasi berlatar belakang kebudayaan yaitu 18.11 persen. Jika dibandingkan dengan area aktivitas, lembaga non profit sektor lingkungan mengeluarkan biaya SDM sampai 45.13 persen, diikuti dengan lembaga non profit sektor perumahan (35.02 persen) dan lembaga non profit sektor kesehatan (34.65%).
Lembaga non profit dalam area pendidikan seperti Dampak Sosial Indonesia, rata-rata mengeluarkan sebesar 30.31 persen untuk biaya SDM. Masih sedikit di atas rata-rata seluruh lembaga non profit yaitu sebesar 29.25 persen.
Disaat yang sama jika dibandingkan dengan institusi lainnya, sebenarnya proporsi komposisi biaya tenaga kerja di lembaga non profit, masih lebih tinggi dibandingkan dengan komposisi biaya lembaga lainnya. Institusi pemerintahan memiliki komposisi pembayaran SDM (PNS) sebesar 15% dari total APBN. Sementara organisasi profit memiliki komposisi biaya tenaga kerja sebesar 25% institusi finansial dan 19% untuk institusi non finansial.
Namun, terlepas dari proporsinya yang lebih tinggi untuk membayar tenaga kerja, perlu diakui bahwa lembaga non profit memiliki keterbatasan akses finansial. Hal tersebut merupakan salah satu faktor utama yang membuat lembaga non profit perlu berhati-hati menentukan jumlah pekerja dan juga kompensasinya demi biaya operasional yang lebih efisien.
Ketiga, pekerja di dunia non profit seringkali dianggap melakukan pekerjaan kasar yang repetitif, sehingga dianggap tidak mengasah kemampuan berpikir. Ini adalah anggapan yang jauh sekali dari kenyataan. Karena dalam rangka memenuhi kebutuhan lebih banyak orang, pekerja di sektor non profit dipercaya mampu bekerja lebih efektif dan efisien daripada di institusi pemerintahan misalnya. Kemampuan bekerja yang efektif dan efisien tentu tidak serta merta dapat terjadi, tanpa proses berpikir yang matang untuk mewujudkan rencana aksi sebuah program.
Pada akhirnya, memang perlu diakui bahwa bahan bakar dan motivasi utama pekerja sektor non profit adalah keinginan untuk berkontribusi, berpikir dan bekerja untuk kepentingan orang banyak. Dengan harapan bahwa semakin banyak pencari kerja untuk bekerja di sektor non profit, kami di Dampak Sosial Indonesia, berupaya untuk melengkapi pendidikan tambahan bagi para calon pekerja, para anak-anak kuliah di tingkat akhir, untuk menyiapkan diri dan melengkapi skill serta mental untuk bekerja pada lembaga non profit sebagai pilihan utamanya. Mimpinya, semoga lembaga non profit bisa bersaing dengan dunia korporasi, sektor pemerintahan, serta perusahaan startup untuk berbagi talenta sumber daya manusia terbaik.
Tulisan ini dipersembahkan untuk rekan-rekan pekerja di Dampak Sosial Indonesia (DSI) yang sudah membersamai selama DSI berdiri lebih dari 3 tahun ini. Terima kasih sudah mau bekerja di sektor non profit bersama-sama :’)
Sumber bacaan :
- https://media.neliti.com/media/publications/48935-ID-neraca-lembaga-non-profit-yang-melayani-rumah-tangga-tahun-20112013.pdf
- https://www.bps.go.id/publication/2021/10/29/47945a6eff3b938738e79af0/neraca-lembaga-non-profit-yang-melayani-rumah-tangga–2018-2020.html
- https://jalancerita.com/2017/12/29/5-hal-yang-saya-pelajari-setelah-setahun-bekerja-di-organisasi-non-profit/
- https://www.cnbcindonesia.com/news/20211126062038-4-294550/duit-negara-banyak-habis-bayar-gaji-pns-ada-yang-rp-100-juta#:~:text=Jakarta%2C%20CNBC%20Indonesia%20%2D%20Pemerintah%20mengeluarkan,dan%20Belanja%20Negara%20(APBN).
- https://www.bps.go.id/statictable/2021/12/23/2183/institusi-korporasi-finansial-neraca-institusi-terintegrasi-triliun-rupiah-2016-2019.html
- https://www.bps.go.id/statictable/2021/12/23/2182/institusi-korporasi-non-finansial-neraca-institusi-terintegrasi-triliun-rupiah-2016-2019.html
- https://unsplash.com/photos/Zyx1bK9mqmA
Biografi penulis
Maghleb Elmir baru saja menginjak tahun ketiganya bekerja di sektor non profit secara profesional, tetapi sudah terpapar dan terlibat dalam berbagai kegiatan dari lembaga non profit selama lebih dari 20 tahun, diawali dengan menjadi seorang volunteer tetap sejak usia 15 tahun. Bekerja di sektor non profit, merupakan salah satu harapan penulis untuk menemukan aktivitas pekerjaan yang memberi arti. Karena lembaga non profit mendekatkan penulis pada akses untuk bisa ambil bagian bersama-sama turut mendorong transformasi dan inovasi dalam bidang pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan peningkatan nilai ekonomi negara Indonesia tercinta.
